BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita
telah mengetahui bahwa atom terdiri atas inti atom dan
elektron-elektron yang beredar mengitarinya. Reaksi kimia biasa (seperti reaksi pembakaran dan penggaraman), hanya menyangkut perubahan pada kulit atom, terutama elektron pada kulit terluar, sedangkan inti atom tidak berubah. Reaksi yang menyangkut perubahan pada inti disebut reaksi inti atau reaksi nuklir (nukleus=inti).
elektron-elektron yang beredar mengitarinya. Reaksi kimia biasa (seperti reaksi pembakaran dan penggaraman), hanya menyangkut perubahan pada kulit atom, terutama elektron pada kulit terluar, sedangkan inti atom tidak berubah. Reaksi yang menyangkut perubahan pada inti disebut reaksi inti atau reaksi nuklir (nukleus=inti).
Kimia inti atau yang dikenal dengan sebutan kimia nuklir
merupakan salah satu bidang kajian dalam ilmu kimia yang bahasan utamanya
menyangkut sifat-sifat suatu nukleotida, struktur, energetika, isotop, dan
hal-hal lainnya yang berkaitan dengan inti suatu atom. Isotop berasal dari kata
isotopos yang berarti “sama tepat” dalam system periodik. Isotop ialah dua atom
atau lebih yang bernomor atom sama, tetapi nomor massanya berbeda. Jumlah electron
setiap isotop sama, oleh sebab itu isotop-isotop memiliki sifat kimia sama dan
beberapa isotop mempunyai sifat radioaktif.
Radioisotop yang sering digunakan
dalam berbagai bidang kebutuhan manusia seperti bidang kimia, kesehatan,
pertanian, hidrologi dan industri, pada umumnya tidak terdapat di alam karena
kebanyakan umur paruhnya relatif pendek. Radioisotop dibuat di dalam suatu
reaktor nuklir yang mempunyai kerapatan (fluks) neutron tinggi dengan
mereaksikan antara inti atom tertentu dengan neutron. Selain itu, radioisotop
dapat juga diproduksi menggunakan akselerator melalui proses reaksi antara inti
atom tertentu dengan suatu partikel, misalnya alpha, neutron, proton atau
partikel lainnya.
Teknologi
yang memanfaatkan radioaktif dikenal dengan istilah teknologi nuklir. Sedangkan
isotop yang bersifat radioaktif disebut radioisotop, dan zat yang bersifat
radiaktif disebut zat radioaktif. Radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif
yang mampu memancarkan radiasi. Radioisotop dapat terjadi secara alamiah maupun sengaja dibuat manusia
untuk reaktor penelitian.
Pemanfaatan
ilmu ini telah merambah ke berbagai bidang kehidupan seperti kesehatan,
industri dan riset kebumian, energi, pangan dan pertanian, ilmu fisika dan
kimia, kelautan dan hidrologi, dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan
pemanfaatan ilmu nuklir tersebut, radioisotopbanyak digunakan dalam bidang
kesehatan, kimia, industry, hidrologi, arkeologi, pertanian dan sebagainya. Aplikasi
tersebut ditujukan untuk kesejahteraan manusia di berbagai bidang.
B.
Rumusan Masalah
a. Apa
itu radioisotop?
b. Sifat-sifat
khas radioisotop?
c. Aplikasi
radioisotop dalam bidang kimia/analitik?
C.
Tujuan
a. Untuk
mengetahui apa itu radioisotop.
b. Untuk
mengetahui sifat-sifat khas radioisotop.
c. Untuk
mengetahui aplikasi radioisotope dalam bidang analitik/kimia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Radioisotop
Radioisotop adalah
isotop dari zat radioaktif, dibuat dengan menggunakan reaksi inti dengan
netron. Isotop suatu unsur, baik yang stabil maupun radioaktif memiliki sifat
kimia yang sama. Radioisotop dapat digunakan sebagai perunut (untuk mengikuti
unsur dalam suatu proses yang menyangkut senyawa atau sekelompok senyawa) dan
sebagai sumber radiasi/sumber sinar. Penggunaan radioisotop sebagai perunut
didasarkan pada ikatan bahwa isotop radioaktif mempunyai sifat kimia yang sama
dengan isotop stabil. Radoisotop ditambahkan ke dalam suatu sistem untuk
mempelajari sistem itu, baik sistem fisika, kimia maupun sistem biologi. Oleh
karena radioisotop mempunyai sifat kimia yang sama seperti isotop stabilnya,
maka radioisotop dapat digunakan untuk menandai suatu senyawa sehingga
perpindahan perubahan senyawa itu dapat dipantau. Sedangkan penggunaan
radioisotop sebagai sumber radiasi didasarkan pada kenyataan bahwa radiasi yang
dihasilkan zat radioaktif dapat mempengaruhi materi maupun makhluk. Radiasi
dapat digunakan untuk memberi efek fisis, efek kimia, maupun efek biologi.Jadi
radioisotop memancarkan sinar radioaktif, seperti sinar alfa, sinar beta
dan sinar gamma yang dapat dideteksi dengan alat khusus.
Dengan menggunakan alat
deteksi dapat diketahui adanya radiasi atau instensitas radiasi dan juga dapat
di tentukan jumlah radioisotop yang terdapat dalam suatu bahan. Radiasi pada
materi dapat menyebabkan penumpukan energi pada materi yang dilalui dampak yang
ditimbulkan radiasi dapat berupa:
1. Ionisasi.
Dalam hal itu partikel radiasi menabrak electron dari atau molekul zat yang
dilalui melalui sehingga terbentuk ion positif dan ion tenion.
2. Eksitasi.
Dalam hal ini radiasi tidak menyebabkan electron terlepas dari atom atau
molekul zat tetapi hanya berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi.
3. Pemutusan
ikatan kimia. Radiasi yang dihasilkan oleh zat radioaktif mempunyai energi yang
dapat memutuskan ikatan-ikatan kimia.
B.
Sifat-Sifat Radioisotop
Peran radioisotop sebagai pencari jejak
tidak terlepas dari sifat-sifat khas yang dimilikinya, yakni:
1. Radioisotop
senantiasa memancarkan radiasi dimanapun dan keberadaanya mudah dideteksi.
2. Laju
peluruhan tiap satuan waktu (radioisotop) hanya merupakan fungsi jumlah atom radioisotope
yang ada, tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan baik temperature, tekanan,
pH dan sebagainya.
3. Waktu
para radioisotop bervariasi dari kisaran milidetik sampai ribuan tahun
4. Intensitas
radiasi ini tidak bergantung pada bentuk kimia atau senyawa yang disusunnya
5. Radioisotope
memiliki konfigurasi elektron yang sama dengan isotope lain sehingga sifat
kimia yang dimiliki radioisotope sama dengan isotope-isotop lain dari unsur
yang sama. Radioisotope karbon-14, misalnya, memiliki karakteristik kimia yang
sama dengan karbon karbon-12
6. Radiasi
yang dipancarkan, utamanya radiasi gamma, memiliki daya tembus yang besar.
C.
Manfaat Radioisotop di Bidang Kimia
1.
Sebagai
Teknik Perunut
Teknik perunut
dapat dipakai untuk mempelajari mekanisme berbagai jenis reaksi kimia
esterifikasi, fotosintesis dan kesetimbangan dinamis
Reaksi
eksterifikasi :
Yaitu reaksi
pembentukan suatu ester yang dapat dibentuk dengan reaksi langsung antara suatu
asam karbosilat dan suatu alcohol. Esterifikasi berkataliskan asam dan
merupakan reaksi yang reversible. Asam karbosilat bereaksi dengan alcohol
membentuk ester dan air.
Berdasarkan
penelitian diketahui bahwa pada reaksi esterifikasi, atom O yang membentuk
senyawa H2O berasal dari asam karbosilat. Adapun atom O yang
membentuk ester dari alcohol.
Kesetimbangan
dinamis
Kesetimbangan
dinamis kimia bersifat dinamis artinya bahwa dalam keadaan setimbang reaksi
tetap berlangsung dengan laju yang sama pada kedua arah. Hal itu dapat
dibuktikan sebagai berikut. Perhatikan kesetimbangan PbI2 (timbal
(II) klorida) padat dan larutan jenuhnya yang mengandung Pb2+(aq)
dan I-(aq) persamaan reaksinya:
PBI2
(s) à
Pb2+ (aq) + 2I-(aq)
Kedalam tabung yang berisi PbI2
padat non radioaktif tambahkan larutan yang berisi ion iodida radioaktif (131I)
hingga jernih, kocok campuran dan biarkan beberapa lama.
Saring campuran
dan keringkan endapan tersaring. Jika dianalisis maka dalam padatan PbI2
akan terdapat PbI2 yang radioaktif. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
larutan jenuh terdapat keadaan setimbang dinamis antara padatan dengan
ion-ionnya.
2.
Analisis/Titrasi
Radiometri
Prinsip dari teknik radiometri adalah sederhana, yaitu mengukur aktivitas untuk
mengindikasi
jumlah substan tertentu yang ada. Pada kasus yang paling sederhana, massa
dihitung
secara langsung dan aktivitas dengan menggunakan
aktivitas jenis yang telah diketahui. Radionuklida alam sering ditentukan
dengan cara ini. Dengan demikian isotop radium yang berumur panjang (226Ra) dapat ditaksir dengan
mencacah 4,78 MeV partikel alpha yang dipancarkan, dan ini dapat dlbedakan dari anak-anak luruhnya dengan menggunakan spektrometer alpha. Kasus yang menarik adalah menentukan kalium total dalam tubuh manusia dengan menggunakan 1,46 MeV sinar gamma dan 40K. Jika detektor untuk seluruh tubuh digunakan,
maka pengukuran
dapat dilakukan.
Teknik lain adalah polarografi radiometri, yaitu sejumlah logam yang didepositkan
pada elektroda yang ditetesi merkuri diukur secara radiometri sebagai fungsi potensial yang
digunakan. Tetesan
merkuri dikumpulkan dalam kondisi bebas oksigen, dikeringkan dengan kertas saring, dan dicacah. Kurva polarografi dapat diperoleh. Metode ini dapat diterapkan untuk kobalt, 60Co digunakan, dan seng, 65Zn digunakan.
Pada metode
radiometri, kadang-kadang
digunakan pengukuran aktivitas mutlak selain itu pengukuran dapat dilakukan untuk satuan yang berubah-ubah,
misalnya cacah per
menit pada sistem deteksi tertentu. Satuan yang berubah-ubah dapat digunakan misalnya dalam titrasi
radiometri, yaitu pada saat penentuan titik akhir (aktivitas sama dengan nol),
tetapi pengukuran mutlak diperlukan untuk memperkirakan 226Ra.
Salah satu contoh analisis radiometri adalah anaisis derivatif
isotop. Teknik yang bermanfaat untuk menentukan kuantitas materi (X) dalam
sampel adalah mereaksikan sampel tersebut dengan reagen radiolabel (Y*) yang
dipilih akan bereaksi secara kuantitatif dengan X membentuk denivatif (1) yang
radioaktif.
X + Y*à
Z*
Jika reagen radioaktif berebih (Y*) yang telah diketahui
aktivitas jenisnya (S
Bq. Mol-1) digunakan, dan jika
sesudah reaksi produk bertanda (1) diisolasi dan aktivtas (Az) ditentukan, maka
kuantitas sesungguhnya dan X (x) dapat dihitung dari :
x =
mol
Teknik ini dikenal sebagai analisis derivatif isotop dan
menyatakan bahwa aktivitas jenis derivatif (1) adalah sama seperti reagen pada
persamaan kimia diatas. Salah satu contoh teknik ini adalah perkiraan
kromatografi kertas atau lapis tipis asam amino melalui pembentukan derivative
radiolabel yang disertai dengan reaksi dengan radioiodin pipsil klorida. Daerah
kromatogram yang mengandung asam amino dibuat radioaktif dengan formasi
derivatif, dan aktivitas diukur dengan menggunakan detektor gamma berenergi
rendah atau dengan memotong kromatogram dan mencacahnya secara individu.
Penentuan kadar Ag+ ataupun Cl-
dapat menggunakan radioisotop. Jika yang ingin ditentukan kadar Cl- maka yang
digunakan adalah Ag dalam bentuk radioisotope (110Ag+)dan
jika yang ingin ditentukan kadar Ag maka yang digunakan adalah ion radiklor.
Titrasi radiometri, isotop dapat digunakan sebagai petunjuk akhir titrasi.
Misalnya pada titrasi penentuan ion Cl- dan ion Ag+
membentuk endapan AgCl. Baik titran maupun cuplikan dapat mengandung komponen
radioaktif.
3.
Analisis Pengaktivan Neutron (APN)
a.
Pengertian APN
Analisis Pengaktivan Neutron, atau
disingkat dengan APN, (= NAA, Neutron
Activation Analysis) adalah suatu teknik analisis unsur yang didasarkan
pada terjadinya pemancaran radiasi
bila nuklida suatu unsur menangkap dan!atau
bereaksi dengan neutron termal (neutron dengan energi kinetik kurang dari 0,1
keV). Teknik ini merupakan salah satu pemanfaatan teknik nuklir di bidang
analisis kimia, di samping teknik analisis lainnya seperti analisis pengenceran
radioisotop dan radioimmunoassay.
Metode APN dapat digunakan untuk tujuan
analisis kualitatif maupun kuantitatif. Teknik ini juga dapat digunakan untuk
analisis secara serentak untuk beberapa unsur sekaligus tanpa terganggu oleh
bentuk kimiawi masing-masing unsur maupun kemiripan atau perbedaan sifat kimia
unsur-unsur yang dianalisis. Hal ini disebabkan karena interaksi nuklida unsur
dengan neutron menghasilkan radionuklida yang mempunym karakteristik meliputi
antara lain energi radiasi yang dipancarkan dan waktu paruh.
Di samping itu, APN juga mempunym
kepekaan atau sensitivitas yang tinggi (dapat menentukan kandungan unsur dalam
jumlah yang sangat kecil) serta memerlukan volume cuplikan yang kecil (cukup
dalam orde
L). Beberapa unsur dapat dideteksi dan ditentukan dalam jumlah 10-9
– 10-14 gram, suatu sifat kepekaan yang sukar atau tidak dapat
dicapai dengan cara-cara analisis yang lain. Bahkan teknik APN dinyatakan mampu
mendeteksi dan menentukan kandungan unsur pada tingkat runutan dan
ultra-runutan untuk tidak kurang dari 75 macam unsur. Hal ini tidak terlepas
dari perkembangan teknik instrumentasi pengukuran radiasi, misalnya
spectrometer y, yang menjadi alat ukur atau penganalisis di dalam teknik APN.
Oengan kepekaan yang tinggi dan teknik pengerjaan yang sederhana, APN dapat
digunakan untuk analisis dan penetapan unsur mayor, minor maupun runutan dalam
berbagai contoh bahan biologis, bahan geologik, bahan industri, lingkungan dan
sebagainya. Pengukuran secara simultan terhadap satu jenis bahan cuplikan
memungkinkan hasil informasi kandungan 30 sampai 40 macam unsur dalam cuplikan
tersebut.
Teknik APN ini diperkenalkan pertamakali
oleh Hevesy dan Levi pada tahun 1936ketika melakukan penelitian yangmenunjukkan
bahwa paparan neutron padabahan yang mengandung unsur tanah jarangmenghasilkan
keradoaktivan yang sangattinggi. Dari pengamatan timbulnyakeradioaktivan
tersebut, mereka melihatpotensi pemanfaatan reaksipenetapan kandungan
unsurcuplikan.nuklir untukdalam suatu cuplikan.
b.
Prinsip
Dasar APN
Apabila suatu nuklida unsur/atom dengan
neutron termal maka terjadi reaksi inti penangkapan neutron yang menghasilkan
spesi antara, yang sangat tidak stabil dan berada pada tingkat energi eksitasi
yang sesuai dengan energi ikat neutron dengan nuklida sasaran tersebut. Dalam
orde waktu yang sangat singkat, spesi antara tersebut mengalami deeksitasi
tingkat energi disertai dengan pemancaran radiasi
yang disebut dengan radiasi y – prompt (prompt-
) dan
terjadi transformasi inti menghasilkan nuklida radioaktif (=radionuklida).
lradiasi dengan neutron termal yang diikuti dengan emisi radiasi
-prompt
terse but dinyatakan sebagai reaksi nuklir A (n,
) A* dengan
A adalah nuklida sasaran (= nuklida yang diiradiasi) dan A adalah radionuklida
yang dihasilkan. Dibandingkan dengan nuklida sasaran, radionuklida produk
reaksi nuklir (n,
) tidak
mengalami perubahan jumlah proton tetapi jumlah neutronnya bertambah satu.
Dengan demikian radionuklida produk tersebut merupakan isotop radioaktif dari
unsur sasaran. Selanjutnya A* meluruh dan memancarkan radiasi
atau partikel
atau partikel
+ atau partikel
- atau gabungan dari ke'empatnya. Oalam kaitannya dengan APN,
radiasi y yang menyertai peluruhan ini disebut radiasi
tunda (delayed-
). Hasil
peluruhan adalah nuklida baru, mungkin masih radioaktif tetapi mungkin pula
berupa nuklida yang stabil.

Gambar
reaksi nuklir bila nuklida sasaran
diiradiasi
dengan neutron termal
Pada gambar di atas, secara sederhana
ditunjukkan reaksi nuklir yang terjadi bila nuklida sasaran diiradiasi atau
diaktivasi dengan neutron termal. Radionuklida produk aktivasi merupakan isotop
radioaktif dari nuklida sasaran. Jenis radiasi yang dibebaskan dari peluruhan
radionuklida produk aktivasi merupakan salah satu karakteristika dari
radionuklida tersebut. Di antara ke empatradiasi nuklir yang mungkin
dipancarkan olehradionuklida produk aktivasi, radiasi ymerupakan yang paling
penting dalam teknikAPN, karena radiasi y inilah yang selanjutnyadideteksi dan
menjadi variabel yang karakteristik di dalam APN.
c.
Contoh alat yang digunakand dalam APN yaitu Spektrometer Gamma
Spektrometer
gamma adalah suatualat yang dapat digunakan untuk melakukananalisis zat
radioaktif yang memancarkanradiasi gamma. Setiap radionuklidamempunyai tenaga
tertentu dan bersifatspesifik. Hal ini digunakan sebagai dasardalam analisis
secara kualitatif. Analisissecara kuantitatif dilakukan berdasarkannilai
cacahan dari spectrum yangdipancarkan. Sebelum digunakan dalampengukuran,
terlebih dahulu sistem spektrometer gamma dikalibrasi dengansumber standar
untuk menentukanhubungan antara nomor salur dan energygamma (keV). Agar dapat
mengidentifikasiisotop radioaktif, spektrometer gammadilengkapi dengan suatu
perangkat lunakuntuk kalibrasidan
mencocokkan puncakpuncakenergi foton (photopeak) dengansuatu pustaka
data nuklir. Spektrometer terdiri dari detectorradiasi gamma, rangkaian
elektronikpenunjang, dan sebuah interface yangdisebut Multi Channel
Analyzer (MCA).Saat ini rangkaian elektronika, catu dayategangan tinggi dan
rangkaian MCA kinitelah dibuat secara terintegrasi padaonboard slot komputer. Dengan perangkatlunak khusus (software
Maestro 3.2), pada seperangkat computer MCA dengan kemampuan pengelolahan
dan analisis.

Gambar
Sistem Spektometer Gamma PRSG
Kalibrasi energi
Dalam spektrometer gamma puncak-puncak
spektrum pada nomor salur(No Channel) sistem spectrometer sebanding
dengan energi sinar gamma.Oleh karena itu perlu dicari hubunganantara nomor
salur dan energi sinar gammayang biasa di sebut dengan kalibrasi energi.Hal ini
dilakukan dengan jalan melakukanpengukuran (pencacahan) sumber radioaktifstandar
dengan beberapa sumber energi daritingkat energi rendah sampai dengantingkat
energi yang tinggi agar kalibrasienergi yang dilakukan mempunyaijangkauan
energi yang cukup lebar. Apabilahubungan antara energi dan nomor
salurdituangkan dalam grafik maka akandiperoleh gambar garis lurus.
Prinsip Analisis
Kualitatif
Kalibrasi energi diperlukan untuk tujuan
analisis kualitatif spektrometri gamma. Setelah kalibrasi energi dilakukan maka
sistem spektrometer dapat dipergunakan untuk melakukan pengukuran suatu
cuplikan. Energi gamma yang dipancarkan oleh suatu radionuklida adalah salah
satu sifat karakteristik dariradionuklida tersebut. Sifat-sifat karakteristik
dari berbagai radionuklida dapat dilihat dalam tabel Isotop yang berisi energi
sinar gamma, waktu paroh dan intensitas. Puncak puncak spektrum pada cuplikan
dapat diketahui menggunakan persamaan matematis pada kalibrasi energi. Sehingga
kandungan unsur radioaktif pada cuplikan dapat ditentukan.
Kalibrasi Effiensi
Effisiensi deteksi adalah ukuran hubungan
antara pencacahan yang dihasilkan detektor
dengan aktivitas zatradioaktif. Nilai suatu pencacahan belummencerminkan
aktivitas yang sebenarnyadari suatu zat radioaktif. Suatu zatradioaktif selalu
memancarkan sinarradioaktif ke segala arah (4
).
Pengukurancuplikan zat radioaktif dilakukan pada jaraktertentu dari
detektor, sehingga sebenarnyahanya sebagian dari sinar radiasi gammayang
dipancarkan yang terdeteksi olehdetektor. Dalam pengukuran zat radioaktifsecara
spektrometri dimana pengukuranhanya ditujukan pada salah satu energi darisekian banyak energi dan mode peluruhanyang ada
dalam cuplikan, maka besarnyaeffisiensi deteksi juga merupakan fungsitenaga dan
dapat dituliskan persamaansebagai berikut:
Dengan
:
A = aktivitas sumber standar (Bq)
Analisis kuantitatif dalam spektrometri gamma membutuhkan kalibrasi effisiensi. Apabila dilakukanpengukuran effisiensi dari
tenaga rendah sampai tenaga yang tinggi menggunakan sumber standar maka dapat
dibuat grafik effisiensi fungsi energi. Nilai effisiensi deteksi suatu
pengukuran ditentukan oleh berbagai factor yaitu jarak cuplikan dengan detektor,
demensi zat radioaktif, volume detektor dan daya pisah detektor.
Prinsip Analisis Kuantatif
Setelah diperoleh grafik kalibrasi energi dan
kalibrasi effisiensi, makapengukuran cuplikan dapat dilakukandengan menggunakan
kondisi kerja yangtepat sama dengan kondisis kalibrasi.Kondisi-kondisi tersebut
antara lain adalahjarak sumber dengan detektor, tegangankerja detektor, coarse
gain, fine gain danlain-lain. Dengan demikian analisis kuantitatif
menggunakan spectrometergamma dapat diandalkan. Pengukuran aktivitas zat
radioaktif selain menggunakan kalibrasi effisiensidapat pula dilakukan dengan
menggunakanprinsip perbadingan puncak spectrumsumber standar dengan puncak spectrumsumber
radioaktif. Cara ini dapat berlakujika sumber cuplikan telah diketahui
jenisunsur zat radioaktifnya dan demensi sumber standar zat radioaktif. Dengan
kondisi kerja yang sama, jenis unsur dan demensi zat radioaktif sama maka
aktivitas zat radioaktif dapat ditentukan.
Spektrometer gamma mempunyai batas
kemampuan pengukuran pada lajucacah yang rendah. Untuk itu perlu perludiketahui
batas kemampuan pengukuransuatu detektor atau berapa deteksi minimumyang bisa
dicapai oleh detektor nuklir.
d.
Keunggulan dan Keterbatasan APN sebagai Suatu Teknik Analitik
Beberapa hal berikut ini merupakan aspek
keunggulan dari teknik APN dibandingkan dengan analisis unsur lainnya:
a.
Merupakan teknik analisis
multi unsur secara serentak untuk analisis kualitatifmaupun kuantitatif, dan
tidak tergantungpada tingkat oksidasi ataupun bent uk kimiadan fisika dari
unsur yang dianalisis.
b.
Sensitivitas deteksi sangat
tinggi sehinggahanya diperlukan jumlah euplikan (bobot massa atau volume) yang
keeil.
c.
Di dalam banyak hal
merupakan teknik analisis tak merusak, tidak diperlukan proses pemisahan selama
analisis.
d.
Apabila saran a iradiasi dan
instrumen pengukuran telah tersedia, analisis dapat dilakukan dengan prosedur
yang mudah, eepat dan sederhana.
e.
Analisis tidak berpotensi
terganggu olehkontaminasi kimia dalam lingkungan.
f.
Dapat diaplikasikan untuk
sekitar 70 % dari jenis unsur pada Peta Berkala dalam berbagai maeam bahan
euplikan.
g.
Dari satu kali proses
iradiasi dapat dilakukan pengulangan pengukuran disesuaikan dengan rentang
waktu paruh unsur yang dianalisis.
Seperti halnya teknik analisis pada
umumnya, di samping beberapa keunggulanyang disebutkan di atas, APN juga
mempunyai beberapa keterbatasan, misalnya :
a.
Memerlukan fasilitas sumber
neutron(reaktor nuklir atau generator neutron)yang tidak selalu dapat dimiliki
olehsemua laboratorium analisis kimia.
b.
Memerlukan legalitas dan
perijinankhusus sehubungan dengan aspekkeselamatan dan/atau proteksi radiasi.
c.
Tidak memberikan informasi
mengenai bentuk kimiawi atau tingkat oksidasiunsur analit.
d.
Tidak dapat dilakukan untuk
analisisunsur yang tertentu, misalnya unsur yangpenampang lintang reaksi
neutronnyasangat rendah untuk hal ini jenisanalisis pengaktivan lainnya
sepertianalisis pengaktivan proton menggunakan sistem siklotron dapat merupakan
komplemen bagi APN.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan analisis aktivasi neutron adalah persiapan sampel
untuk diiradiasi, iradiasi
sampel, pencacahan sampel, analisis hasil pencacahan.
a.
persiapan sampel untuk diiradiasi
Sebelum diiradiasi
sampel
harus
dipersiapkan sebaik-baiknya dan ditempatkan dalam wadah. Persiapan harus dilakukan dengan hati-hati agar
terhindar dan kontaminasi.
Sentuhan
tangan dapat
memindahkan garam
dan menyebabkan sampel terkontaminasi unsur natrium (Na) dan
kiorida (Cl). Oleh
karena
itu untuk menghindari kontaminasi, sampel sebaiknya ditangani di dalam ruang bersih. Peralatan yang digunakan harus bersih dan
terbebas dan unsur-unsur yang dapat
mengkontaminasi sampel.
Wadah sampel yang diiradiasi harus dipilih dari bahan yang memiliki ketahanan
radiasi
dan
suhu yang tinggi
(tidak terdekomposisi, meleleh atau menguap dalam lingkungan radiasi), memiliki
kadar rendah dan unsur-unsur yang dapat menjadi radioaktif jika diiradiasi, murah dan mudah penanganannya.
Bahan yang sering digunakan adalah polietilen, silika dan aluminium foil. Bahan
polietilen memenuhi dua persyaratan terakhir, yaitu memiliki kadar rendah dan unsur-unsur
yang dapat menjadi
radioaktif,
murah dan mudah penanganannya. Tetapi bahan ini memiliki
ketahanan radiasi dan suhu yang rendah. Polietilen akan menjadi rapuh setelah terkena
paparan kurang lebih 1022 neutron/m2
Wadah silika memiliki
ketahanan radiasi dan
suhu yang tinggi,
tetapi
memiliki
kemurnian yang rendah dan akan
menjadi radioaktif. Aluminium foil hanya dapat digunakan sebagai wadah sampel
padat, tetapi aluminium dapat menjadi radioaktif meskipun umur
paruhnya
dalam orde menit.
b. Sumber Radiasi Neutron
Sumber radiasi neutron untuk keperluan analisis aktivasi neutron dapat berasal dari reaktor nuklir, akselerator (pemercepat partikel), dan sumber
neutron isotopik. Reaktor nuklir merupakan sumber
neutron yang
paling sering digunakan. Reaktor nuklir dapat menghasilkan fluks neutron termal yang tinggi (± 1014 neutron/cm2.s). Neutron cepat dalam jangkau tenaga beberapa keV dapat juga dihasilkan, tetapi dengan fluks yang Iebih rendah.
Akselerator (pemercepat partikel) menghasilkan neutron cepat sebagai
hasil reaksi partikel bermuatan, yang biasa disebut generator neutron. Fluks neutron lebih rendah dibandingkan dengan reaktor nuklir, tetapi
masih mencukupi untuk beberapa tujuan. Dan
reaksi 3H (d, n)4He dapat dihasilkan 14,7 MeV neutron, dapat digunakan
untuk menginisiasi reaksi (n, p), (n,
), dan (n, 2n). Aktivasi yang penting dengan neutron cepat adalah reaksi 16O (n, p) 16N, karena dapat digunakan untuk menganalisis oksigen
Dua penerapan uatama adalah oksigen dalam logam, terutama baja yang biasanya berkadar 0,01 — 0,1 % dan
oksigen dengan senyawa organik,
yang
banyaknya sampel sekitar 10 mgram. Sumber neutron isotopik didasarkan pada reaksi (
,n), (
,n) dan reaksi fisi spontan (252Cf). Semua reaksi menghasilkan neutron cepat.
Selain dengan
neutron, analisis aktivasi
kemungkinan dapat dilakukan
dengan
menggunakan partikel bermuatan atau sinar
gamma. Aktivasi dengan partikel bermuatan terutama
bermanfaat untuk unsur-unsur yang sangat ringan, yang penghalang Coulombnya rendah dan aktivasi neutron tidak dapat digunakan. Mesin Van de
GrafT dan
siklotron digunakan untuk menghasilkan proton, deuteron, ion 3He++ dan partikel alpha. Fluks yang tidak cukup tinggi atau target menjadi panas merupakan
masalah dan cenderung membatasi sensitivitas. Sampel yang akan diaktivasi harus homogen karena rendahnya daya tembus
partikel
penembak
Sinar gamma dapat menginduksi dua jenis reaksi yang
dapat
digunakan untuk
analisis aktivasi. Yang pertama adalah produksi
isomer metastabil, misalnya 4,5 jam 115Inm
dari isotop 115n.
Gamma dengan energi
relatif rendah diperlukan untuk target emas, misalnya 3 MeV bremsstrahlung dari mesin Van de Graff Yang kedua adalah reaksi pemancaran
nukleon, terutama reaksi (
, n). Rekasi ini memerlukan energi Iebih besar sekitar 15 - 25 MeV dari yang pertama.
c. Iradiasi sampel
Tergantung pada pemilihan reaksi, iradiasi sampel dapat dilakukan di
reaktor nuklir,
akselerator atau sumber neutron isotopik. Pada umumnya analisis aktivasi neutron dilakukan
di reaktor nuklir dengan menggunakan neutron termal yang dihasilkannya. Jenis reaktor
yang dapat digunakan untuk analisis ini antara lain adalah reaktor Triga Mark (for Training,
Research and Isotope Production - General
Atomic), seperti
yang
terdapat di
Indonesia.
Reaktor Triga Mark memiliki
fasilitas rotary specimen rack atau
Lazy Susan untuk
mengiradiasi sampel dengan waktu satu jam atau Iebih dan
fasilitas tabung pneumatik untuk iradiasi
dengan waktu kurang dan 15 menit.
Setelah pemilihan fasilitas iradiasi, maka langkah berikutnya adalah penentuan waktu iradiasi. Apabila sampel yang akan diiradiasi telah diketahui jenis
unsur-unsur yang terkandung di
dalamnya, maka waktu iradiasi dapat lebih mudah diperkirakan. Sebaliknya,
apabila jenis unsur dalam sampel tidak diketahui
sama sekali, maka waktu iradiasi harus
diubah-ubah untuk mengetahui
jenis-jenis unsur yang
terdapat di dalamnya.
4.
Analisis
Pengenceran Isotop
Analisis
pengenceran isotope untuk menentukan kadar suatu zat dengan cara menambahkan
zat radioaktif yang sudah diencerkan kedalam zat yang akan ditentukan kadarnya.
Pengenceran isotop adalah pengenceran bahan target yang dilakukan dengan
menambahkan isotopnya. Pengenceran isotope digunakan untuk mengurangi cacat
radiasi dan analisis yang memanfaatkan perubahan rasioisotop.
Analisis Pengenceran Isotop (API) merupakan indikator metode radioanalitik yang paling banyak digunakan. Prinsip dasar dan API adalah jika perunut radioaktif dicampurkan
ke dalam senyawa yang tidak mengandung
radioaktif dan yang sejenis
dengan
perunutnya,
maka aktivitas jenis dari perunut radioaktif tersebut berkurang.
Perbandingan antara aktivitas jenis sebelum
dan
sesudah pencampuran dapat digiinakan untuk menentukan kadar senyawa yang tidak mengandung radioaktif, Adapun teknik analisisnya
dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Suatu senyawa bertanda X* (radioaktif) yang telah diketahui kadarnya (x1 gram) dan
aktivitasnya
(Ax) memiliki aktivitas jenis sebesar:
dengan M adalah berat molekul senyawa X*
Senyawa bertanda tersebut
ditambahkan ke dalam campuran yang mengandung senyawa X yang tidak radioaktif, tetapi
sejenis dengan senyawa bertanda Senyawa X ini yang akan
ditentukan kuantitasnya,
misalnya
sebesar x2 gram. Aktivitas jenis campuran ini
adalah:
![]() |
Apabila
senyawa X* direaksikan dengan
suatu senyawa yang mengandung
X tidak
radioaktif, maka akan dihasilkan senyawa yang mengandung radioaktif dengan persamaan
reaksi:
X*+U → Y*+V
(6-5)
Hasil reaksi Y* ini tidak dapat dipisahkan semuanya, meskipun demikian
aktivitas jenis dari
senyawa Y* ini masih sebesar S2, karena perbandingan antar atom radioaktif dengan atom
sejenis yang tidak radioaktif tidak dapat diubah oleh reaksi
kimia. Apabila berat Y yang dipisahkan adalah xy gram,
maka
aktivitas
jenisnya adalah:
![]() |
(6-6)
dengan Ay adalah aktivitas Y yang dipisahkan dari campuran
dan My adalah berat molekul senyawa Y.
Jika persamaan (6-3) disusun kembali, maka
akan
diperoleh :
(6-7)
dengan
menggunakan
persamaan
(6-6), maka
persamaan
(6-7)
dapat
disusun
kembali menjadi :
(6-8)
Metode ini telah digunakan untuk menentukan unsur
kelumit dari sampel, seperti logam,
batuan, mineral, air, tanah, plastik, tumbuhan, bahan
biologis, senyawa
organik (asam amino, steroid, vitamin, insektisida, dll).
Metode API dapat
bermanfaat pada situasi
berikut ini:
o Substan
ditentukan dalam
campuran
bahan
yang
mirip
(sama),
tetapi
isolasi
kuantitatif tidak memungkinkan.
o Bahan yang dianalisis memiliki konsentrasi yang rendah, sehingga kehilangan karena
serapan pada permukaan wadah selama prosedur pemisahan tidak dapat dihindari.
o Analisis
harus
dilakukan secepat mungkin,
milsalnya
karena peluruhan
atau
pergeseran kesetimbangan.
o Bahan yang
dianalisis
merupakan bagian sistem yang besar, dan hanya bagian
tertentu yang tersedia,
misal
kandungan air dalam
hewan.
a.
Macam API
API klasik menggunakan perbandingan aktivitas jenis dari perunut radioaktif sebelum
dan
sesudah dicampurkan dengan senyawa non radioaktif yang akan di
tentukan. Dengan
kata lain, perunut radioaktif diencerkan
dengan senyawa non radioaktif. Pengenceran
menyebabkan perubahan pada aktivitas jenis yang ditambahkan ke perunut, yang pada
akhirnya dapat diukur dan digunakan untuk menentukan banyaknya atau
konsentrasi
komponen yang ingin
diketahui dalam sampel.
Berbagai API yang dikembangkan meliputi :
1. API langsung (direct IDA), atau API
tunggal,
sampel
non radioaktif
diencerkan
dengan perunut radioaktif
2. Kebalikan API
(reverse IDA), bahan radioaktif diencerkan
dengan bahan stabil.
3. API derivatif (derivatif
IDA), bahan yang dianalisis pada
awalnya adalah
nonradioaktif, tetapi dibuat menjadi radioaktif melalui reaksi
stoikiometrik
dengan menggunakan reagent
radioaktif.
4. Pengenceran isotop
ganda (dauble isotope dilution), dua isotop radioaktif dari unsur
yang sama digunakan.
5. API setelah aktivasi, radioaktivitas bahan yang dianalisis diinduksi dengan teknik aktivasi
yang sesuai.
6. Pseudo API, bahan yang dianalisis yang telah diencerkan dari unsur
yang tidak sama
dengan perunut,
tetapi memiliki
sifat kimia yang cukup sama.
b. Sensitivitas
Sensitivitas
API
dibatasi oleh beberapa faktor berikut ini:
1. Jumlah terkecil yang dapat ditentukan atau dimurnikan pada API
langsung.
2. Aktivitas
jenis awal
pada kebalikan API.
3. Aktivitas jenis dan perunut radioaktif yang telah
diencerkan atau reagent radioaktif pada API derivatif.
4. Konstanta kesetimbangan pada ekstraksi, hidrolisis, presipitasi dan reaksi pemisahan sejenisnya
yang digunakan pada API substoikiometnik.
5. Kontaminasi reagent.
6. Stabilitas reagent pada konsentrasi rendah, serapan pada permukaan, dll pada API
7. substoikiometrik dan sub-superekivalen.
8. Volume larutan yang digunakan pada API substoikiometrik
9. Fluks neutron, foton, partikel bermuatan pada API
setelah aktivasi.
10. Pengganggu.
Pada
analisis pengenceran radioisotop, kedalam suatu larutan yang akan dianalisis
ditambahkan suatu larutan yang mengandung suatu spesi radioaktif yang diketahui
jumlahnya dan zat yang tidak diketahui. Kemudian zat tersebut dipisahkan, lalu
keradiaktifannya ditentukan.
Dalam pengenceran analisis isotop
ini senyawa yang digunakan memiliki sifat yang identik dengan senyawa yang akan
dianalisis. Metoda yang dapat dapat digunakan untuk analisis pengenceran isotop
ini diantaranya adalah metode Titrimetri, Spektrofotometri UV-VIS, Fluorimetri,
HPLC, polarografi, Spektrografi Emisi, XRF, AAS, Spektrometri Alfa, dan
Spektrometri Massa. Metode-metode ini digunakan untuk mengetahui kereaktifan
suatu senyawa analisis yang telah mengalami pengenceran isotop.
Analisis campuran senyawa
berdasarkan jenis cuplikan, yaitu dengan suatu komponen yang telah diketahui
aktivitas jenisnya; penentuan kuantitatif senyawa dalam campuran yang rumit
dapat dilaksanakan dengan menambahkan senyawa bertanda dengan keaktifan jenis
dan jumlah yang diketahui dengan teliti, untuk maksud ini harus digunakan
senyawa bertanda dengan sifat yang identik dengan senyawa yang akan ditentukan,
bila senyawa yang akan ditentukan dapat dipisahkan dalam keadaan murni, tetapi
tidak perlu diperoleh hasil pemisahan yang kuantitatif, maka kadar senyawa yang
dimaksud dapat ditentukan dengan membandingkan keaktifan jenis sebelum dan
sesudah pemisahan. Kebalikan dari cara ini sering dinamakan kebalikan
pengenceran isotop, merupakan penambahan isotop mantap ke dalam isomer
radioaktif yang akan ditentukan kadarnya.
Kegunaan Analisis Pengenceran
Isotop. Secara umum kegunaan analisis pengenceran isotop adalah untuk
mengurangi cacat radiasi akibat penyerapan radioisotop ke dalam tubuh dan
anlisis yang memanfaatkan perubahan radioisotop dalam berbagai bidang aplikasi
seperti bidang hidrologi, kesehatan, geologi, biokimia dan kimia analisis yang
akan dijelaskan lebih lanjut.
Aplikasi Analisis Pengenceran
isotop. Aplikasi analisis pengenceran isotop awalnya dilakukan oleh ahli
biokimia untuk menganalisis campuran kompleks dari senyawa organik. Hal ini
dilakukan untuk memastikan stabilitas senyawa berlabel dan ketahanan untuk
pertukaran isotopik reaksi. Nitrogen-15-label glisin misalnya, dapat digunakan
untuk menentukan glisin dalam campuran asam amino yang diperoleh dari protein.
Deuterium-glisin label tidak dapat digunakan jika isotop deuterium yang melekat
pada atau amino glisin memiliki gugus karboaksil, karena di lokasi deuterium
diketahui mengalami reaksi pertukaran dengan hidrogen pada pelarut atau dalam
asam amino lainnya.. Deuterium sangat berguna dalam analisis isotop unsur di
mana total hidrogen atau konsentrasi hidrogen tukar yang diinginkan juga.
Contoh Analisis pengenceran isotop:
Ke dalam 50 mL larutan yang mengandung ion 62Zn2+
yang belum diketahui konsentrasinya ditambahkan 10 mL larutan 62Zn2+
0,100 µ Ci. Kemudian diencerkan sampai volume 100 ml. Setelah pengendapan garam
seng
diperoleh
0,4000 gram seng dengan keaktifan 0,0825 µ Ci. Hitunglah konsetrasi
ion
62Zn2+ dalam larutan semula.
Jawab:
%Zn yang diperoleh = 0,0825/0,100 X 100 = 82,5 %
Jawab:
%Zn yang diperoleh = 0,0825/0,100 X 100 = 82,5 %
Jumlah
seng = (0,4000 g seng yang diperoleh)/(0,825 (gram yang diperoleh)/(gram
total)) = 0,485 g
Dengan
mengabaikan berat 62Zn2+ yang ditambahkan maka konsentrasi 62Zn2+dalam
larutan semula adalah: 0,485/(65,37 X 0,05) = 0,1484 M
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Radioisotop adalah isotopunsur
radioaktif yang memancarkan sinar radioaktif. Isotop suatu unsur baik yang
stabil maupun radioaktif memiliki sifat kimia yang sama. Adapun Peran
radioisotop sebagai pencari jejak tidak terlepas dari sifat-sifat khas yang
dimilikinya.
Adapun
aplikasi dari bidang kimia/analitik adalah sebagai teknik perunut (Teknik
perunut dapat dipakai untuk mempelajari mekanisme berbagai jenis reaksi kimia
esterifikasi, fotosintesis dan kesetimbangan dinamis), analysis titrasi
radiometri (Analisis radiometri adalah cara analisis kimia untuk unsur unsur
atau zat tak radioaktif dengan jalan penambahan zat radioaktif dan analisis
radiometri ini digunakan untuk menentukan kadar zat yang sangat rendah dalam
suatu campuran.), analisis pengenceran isotop (Analisis pengenceran isotope
untuk menentukan kadar suatu zat dengan cara menambahkan zat radioaktif yang
sudah diencerkan kedalam zat yang akan ditentukan kadarnya), dan analysis
pengaktifan neutron (Analisis
pengaktifan neutron adalah analysis unsur-unsur dalam sampel yang didasarkan
pada pengubahan isotope stabil oleh isotope radioaktif melalui pemboman sampel
oleh neutron).
B.
Saran
Sebaiknya
Radioisotop digunakan dalam hal positif yang dapat di manfaatkan oleh manusia
bukan hal yang negative yang mungkin bisa menimbulkan masalah bahkan bencana
bagi kehidupan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Arnikar, H.J. 1989. Essentials of Nuclear Chemistry. Second
Edition. India: Wiley Eatern Limited.
Astatin. 2010. Kegunaan Radioisotop. http://imperfectionsts.wordpress.com/2010/
10/17/kegunaan-radioisotop. Diakses
pada tanggal 26 November2017.
Awaludin, Rohadi. 2009. Mencari Jejak Menggunakan Radioisotop. http://berita
iptek.istecs.org/mencari-jejak-menggunakan-radioisotop/. Diakses pada tanggal 26 November2017.
Luhur, Nugraha,
Kadarusmanto dan Subiharto. 2013. Uji Banding Sistem Spektometer Gamma dengan
Metoda Analisis Sunber Eu-152. Buletin
Pengelolaan Reaktor Nuklir. Vol.X.
No.1.
Gunandjar. 1992. Prosiding Seminar
Nasional Teknologi Pengolahan Limbah VI. Jakarta: Puspiptek-RISTEK. ISSN
1140-6086.
Spoenarjo,
Sunarhadijoso. 2008. Analisis Pengaktifan Neutron. Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka. Vol.11. ISSN: 1410-8542.
Sunarya,
Yayan. 2007. Mudan dan Aktif Belajar Kimia untuk SMA Kelas XII.
Bandung: Setia Puma
Inves.
Susilowati, Endang. 2009. Theory and Application of Chemistry 3.
Jakarta: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

