PEMANFAATAN
LIMBAH PEMBUATAN MINYAK KELAPA SEBAGAI PEMUTIH PAKAIAN
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh:
Nama : Rahmawati
Nim: 1513040027
Kelas: Pendidikan Kimia A
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Indonesia merupakan
negara tropis yang memiliki banyak pulau dan merupakan negara produsen kelapa
utama di dunia. Hampir di semua propinsi di Indonesia dijumpai tanaman kelapa
yang pengusahaannya berupa perkebunan rakyat. Hal ini merupakan peluang untuk
pengembangan kelapa menjadi aneka produk yang bermanfaat. Pohon kelapa sangat
bermanfaat bagi kehidupan manusia karena hampir semua bagian kelapa dapat
dimanfaatkan. Buah kelapa yang terdiri atas sabut, tempurung, daging buah dan
air kelapa tidak ada yang terbuang dan dapat dibuat untuk menghasilkan produk
industri, antara lain sabut kelapa dapat dibuat keset, sapu, dan matras.
Tempurung dapat dimanfaatkan untuk membuat karbon aktif dan kerajinan tangan.
Dari batang kelapa dapat dihasilkan bahan-bahan bangunan baik untuk kerangka
maupun untuk dinding serta atap. Daun kelapa dapat diambil lidinya yang dapat
dipakai sebagai sapu, serta barang-barang anyaman. Daging buah dapat dipakai
sebagai bahan baku untuk menghasilkan kopra, minyak kelapa, coconut cream,
santan dan parutan kering, sedangkan air kelapa dapat dipakai untuk membuat
cuka dan nata de coco. Santan adalah cairan yang diperoleh dengan
melakukan pemerasan terhadap daging buah kelapa parutan. Santan merupakan bahan
makanan yang dipergunakan untuk mengolah berbagai masakan yang mengandung
daging, ikan, ayam, dan untuk pembuatan berbagai kue-kue, es krim, gula-gula.
Selain itu, santan juga dapat diolah menjadi minyak goreng yang diolah secara
tradisional.
Di kecematan Belawa Kab.Wajo
pohon kelapa masih banyak didapatkan baik disekitar pemukiman maupun kebun
warga setempat. Tradisi dalam membuat minyak goreng dari buah kelapa masih banyak
di jumpai. Dalam proses pembuatannya kelapa yang sudah tua diambil sarinya atau
biasa disebut santan kelapa. Ada dua jenis minyak kelapa tradisional yang biasa
dibuat oleh masyarakat setempat. Berdasarkan prosesnya ada dua cara yaitu yang
pertama sari kelapa atau santan langsung dimasak hingga menghsilkan minyak dan
yang kedua santan difermentasi selama satu hari. Pada proses fermentasi akan
terbentuk dua lapisan yaitu pada lapisan atas terbentuk kanil (krim) dan pada
bagian bawah terbentuk skim yang berupa air. Kanil yang terbentuk akan diolah
dengan dimasak hingga menjadi minyak dan skim sebagai limbah yang tidak
digunakan lagi dapat digunakan sebagai pemutih pakaian. Biasanya masyarakat
setempat memamnfaatkan skim tersebut meskipun belum mengetahui apa yang
menyebabkan pakaian dapat menjadi putih apabila direndam pada limbah tersebut
karena hal ini merupakan tradisi turun temurun yang biasa dilakukan oleh nenek
moyang mereka. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti kandungan yang
terdapat pada skim hasil fermentasi dengan membandingkan zat kimia pada pemutih
pakaian.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
proses pembuatan minyak kelapa?
2. Apa
kandungan kimia dari limbah pembuatan minyak kelapa sehingga dapat digunakan
untuk memutihkan pakaian?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan
karya ilmiah ini yaitu untuk mengetahui proses
pembuatan minyak kelapa dan kandungan
kimia pada limbah pembuatan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai
pemutih pakaian.
D.
Manfaat
Penelitian
Manfaat dari penulisan
karya ilmiah ini yaitu kita dapat mengetahui proses pembuatan minyak kelapa dan kandungan kimia
pada limbah pembuatan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pemutih
pakaian.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Kajian Teori
1.
Kelapa
Kelapa (Cocos
nucifera L) merupakan salah satu hasil pertanian Indonesia yang cukup
potensial. Hampir semua bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Banyak
kegunaan yang dapat diperoleh dari kelapa dan salah satu cara untuk
memanfaatkan buah kelapa adalah mengolahnya menjadi minyak makan atau minyak
goreng. Produk kelapa yang paling berharga adalah minyak kelapa, yang dapat
diperoleh dari daging buah kelapa segar atau dari kopra (Suhardiyono, 1993).
Kelapa (coconut)
dikenal dengan berbagai sebutan seperti Nux indica, al djanz al kindi,
ganz-ganz, nargil, narle, tenga, temuai dan pohon kehidupan. Buah
kelapa (cocos nucifera) termasuk famili palmae dari genus cocos.
Pohon kelapa mempunyai tinggi rata-rata 12,3 meter dan sejak ditanam sampai
berbuah hingga siap dipetik pohon kelapa membutuhkan waktu 12 bulan
(Suhardiyono, 1993).
Pada dasarnya
dikenal dua varietas kelapa, yaitu varietas Nana yang umum disebut kelapa
genjah dan varietas Typica yang umum disebut kelapa dalam. Kelapa genjah
berdasarkan sifatnya dibagi 5 yaitu : kelapa gading, kelapa raja, kelapa puyuh,
kelapa raja malabr, kelapa hias. Kelapa dalam berdasarkan sifatnya dibagi 6
yaitu : kelapa hijau, kelapa merah, kelapa manis, kelapa bali, kelapa
kopyor,
kelapa lilin (Wahyuni, Mita, Ir., 2000).
Buah
kelapa terdiri dari bagian-bagian seperti:
1.
Epicarp
(Kulit Luar)
Yaitu
kulit bagian luar yang berwarna hijau, kuning, atau jingg permukaannya licin, agak
keras dan tebalnya 0,14 mm.
2.
Mesocarp
(Sabut)
Yaitu kulit bagian tengah yang disebut
serabut terdiri dari bagian bersera tebalnya 3 - 5 mm.
3.
Endocarp (Tempurung)
Yaitu
bagian tempurung yang keras sekali tebalnya 3 - 5 mm, bagian dalam melekat pada
kulit luar biji.
4.
Testa ( Kulit Daging Buah )
Yaitu bagian
dari warna kuning sampai coklat.
5.
Endosperm
(Daging Buah )
Yaitu bagian yang berwarna putih dan
lunak, sering disebut daging kelapa yang tebalnya 8 - 10 mm.
6.
Air Kelapa
Yaitu bagian yang berasa manis,
mengandung mineral 4%, gula 2%, dan air.
7.
Lembaga
Yaitu
bakal tanaman setelah buah tua. Sumber : Palungkun, Rony (1993)
2. Buah Kelapa
Satu pohon
kelapa dapat berbuah mulai dari 10 hingga 13 kali dalam setahun. Buah kelapa
tumbuh dalam rumpun, bisa mencapai 12 buah per rumpun. Daging buah kelapa
merupakan bagian yang paling penting dari komoditi asal pohon kelapa. Daging
buah merupakan lapisan tebal berwarna putih. Bagian ini mengandung berbagai zat
gizi. Kandungan zat gizi tersebut beragam sesuai dengan tingkat kematangan
buah. Selama perkembangannya, buah kelapa secara kontinyu mengalami kenaikan
berat. Ukuran berat maksimum tercapai pada bulan ketujuh. Pada saat itulah
jumlah air kelapa mencapai maksimal. Setelah periode tersebut, air kelapa berkurang
jumlahnya dan daging kelapa mengalami penebalan. Penebalan daging mencapai
puncaknya pada bulan ke-9. Di atas bulan ke-10, kelapa dapat dikatakan tua.
Pada periode tersebut, kadar air semakin berkurang. Itulah yang menyebabkan
kelapa tua akan berbunyi jika dikocok-kocok. Buah kelapa tua terdiri dari empat
komponen utama, yaitu: 35 persen sabut, 12 persen tempurung, 28 persen daging
buah, dan 25 persen air kelapa. Daging buah tua merupakan bahan sumber minyak
nabati (kandungan minyak 30 persen).
Perbedaan
mendasar antara daging buah kelapa muda dan tua adalah kandungan minyaknya.
Kelapa muda memiliki rasio kadar air dan minyak yang besar. Kelapa disebut tua
jika rasio kadar air dan minyaknya optimum untuk menghasilkan santan dalam
jumlah terbanyak. Sebaliknya, bila buah kelapa terlalu tua, kadar airnya akan
semakin berkurang. Pada kondisi tersebut, hasil santan yang diperoleh menjadi
sedikit. Sumber : www.situshijau.co.id
3. Minyak Kelapa
Minyak kelapa
berdasarkan kandungan asam lemak digolongkan ke dalam minyak asam laurat,
karena kandungan asam lauratnya paling besar jika dibandingkan dengan asam
lemak lainnya. Berdasarkan tingkat ketidakjenuhannya yang dinyatakan dengan
bilangan Iod (iodine value), maka minyak kelapa dapat dimasukkan ke
dalam golongan non drying oils, karena bilangan iod minyak tersebut
berkisar antara 7,5-10,5.
Komposisi
asam lemak minyak kelapa dapat dilihat pada tabel 2.2. Dari
tabel tersebut dapat dilihat bahwa asam
lemak jenuh minyak kelapa kurang dari 90 persen. Minyak kelapa mengandung 84
persen trigliserida dengan tiga molekul asam lemak jenuh, 12 persen
trigliserida dengan dua asam lemak jenuh dan 4 persen trigliserida dengan satu
asam lemak jenuh.
Tabel 2.1.
Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa
|
Asam Lemak
|
Rumus Kimia
|
Jumlah (%)
|
|
Asam Lemak
Jenuh :
|
|
|
|
Asam Kaproat
|
C5H11COOH
|
0,0 – 0,8
|
|
Asam Kaprilat
|
C7H17COOH
|
5,5 – 9,5
|
|
Asam Kaprat
|
C9H19COOH
|
4,5 – 9,5
|
|
Asam Laurat
|
C11H23COOH
|
44,0 – 52,0
|
|
Asam Miristat
|
C13H27COOH
|
13,0 – 19,0
|
|
Asam Palmitat
|
C15H31COOH
|
7,5 – 10,5
|
|
Asam Stearat
|
C17H35COOH
|
1,0 – 3,0
|
|
Asam Arachidat
|
C19H39COOH
|
0,0 – 0,4
|
|
Asam Lemak
Tidak Jenuh :
|
|
|
|
Asam
Palmitoleat
|
C15H29COOH
|
0,0 – 1,3
|
|
Asam Oleat
|
C17H33COOH
|
5,0 – 8,0
|
|
Asam Linoleat
|
C17H31COOH
|
1,5 – 2,5
|
Sumber: Thieme,
J. G. (1968) dikutip dari Ketaren, 1986.
4. Zat Pemutih (Klorin)
Klor
adalah desinfektan kimia yang digunakan secara luas, terutama digunakan dalam
klorinasi air untuk air minum dan tujuan pengolahan. Paling efektif bekerja
pada harga pH yang rendah (Desrosier, 1988).
Klor
yang biasa digunakan sebagai pemutih jenis dasar adalah Sodium Hipoklorit dan
Kalsium Hipoklorit. Kedua senyawa tersebut juga bisa sebagai penghilang noda
atau desinfektan. Pemutih jenis dasar terdiri atas dua yaitu padat dan cair.
Pemutih padat adalah Kalsium Hipoklorit (CaOCl2) berupa bubuk putih atau yang
biasa dikenal sebagai kaporit. Sedangkan pemutih cair adalah Sodium Hipoklorit
(NaOCl) yang merupakan cairan berwarna sedikit kekuningan, beraroma khas dan
menyengat (Purnomo, 2003).
Menurut
Suryatin (2008), Bahan pemutih dibedakan berdasarkan jenis penggunaannya.
Terdapat beberapa jenis bahan pemutih yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya bahan untuk memutihkan pakaian, bahan pemutih kulit, dan
bahan pemutih untuk makanan.
a. Bahan Pemutih
Pakaian
Bahan pemutih
untuk pakaian adalah senyawa klorin. Senyawa ini dapat mengoksidasi zat warna
yang melekat pada pakaian sehingga pakaian menjadi putih. Zat warna yang
melekat pada pakaian dapat berasal dari luar pakaian, dapat pula dari zat warna
pada pakaian itu sendiri. Efek negatif bahan pemutih pakaian diantaranya dapat
menyebabkan kita terbakar, bersifat racun, berbahaya jika terkena mata.
Bahan utama pemutih padat (bubuk putih) adalah kalsium
hipoklorit dengan rumus kimia Ca(ClO)2 yang secara umum dikenal
sebagai kaporit. Bahan ini lazim dipakai untuk mensucihamakan air PAM dan kolam
renang. Bahan utama pemutih cair adalah natrium hipoklorit dengan rumus NaOCl.
Natrium hipoklorit dan kalsium hipoklorit mempunyai sifat
multifungsi. Selain sebagai pemutih, kedua senyawa ini dapat berfungsi sebagai
penghilang noda dan disinfektan (sanitizer). Fungsi ganda NaOCl sebagai
penghilang noda maupun disinfektan dapat menjadi peluang tersendiri dalam
penjualan. Kita dapat mengetahui kandungan bahan kimia yang terdapat di dalam
pemutih dari kemasannya. Dengan menggunakan pemutih yang biasanya mengandung
bahan kimia utama klorin dan natrium perborat, pakaian putih yang ternoda dapat
menjadi lebih putih cemerlang. Meskipun demikian, kita harus berhati-hati dalam
penggunaannya. Bahan kimia klorin dan natrium perklorat adalah bahan aktif yang
cukup berbahaya. Penggunaan pemutih yang kurang berhati-hati akan menyebabkan
lunturnya kain berwarna.
Pemutih (bleaching agent) adalah bahan-bahan kimia yang
dapat digunakan untuk mengatasi kotoran yang membandel pada pakaian. Bahan
aktif yang terkandung dalam pemutih pakaian, antara lain natrium hipoklorit
atau natrium perklorat. Namun demikian, pemakaian pemutih yang terlalu sering
dan berlebihan dapat menyebabkan pakaian cepat rusak. Ini disebabkan bahan
aktif tersebut dapat merusak partikel-partikel dan serat kain. Pemakaian
pemutih yang berlebih dan terlalu sering menyebabkan seratserat kain menjadi
keras dan rapuh. Supaya pakaian tidak cepat rusak maka sebaiknya pemakaian
pemutih hanya bila diperlukan saja. Pemutih sebaiknya hanya digunakan jika
penggunaan detergen biasa tidak mampu mengangkat kotoran secara bersih. Perlu
diketahui, pemutih pakaian dapat mengakibatkan memudarnya warna pada pakaian
berwarna.
Pemakaian pemutih yang berlebihan juga dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan. Zat aktif dalam pemutih dimungkinkan dapat membunuh
bakteri dalam tanah. Cara mengatasi limbah pemakaian pemutih hampir sama dengan
penanggulangan limbah sabun dan detergen.( Sumber : Krisno,2008)
Menurut
Sari (2011), adapun kegunaan dari klorin adalah sebagai berikut:
1. Desinfektan.
Klorin digunakan untuk desinfeksi air termasuk air untuk mandi, kolam renang
dan juga air minum. Klorin digunakan sebagai desinfektan air minum karena
mempunyai efek dapat membunuh bakteri E. Coli serta Giardia dan harganya murah.
Penambahan klorin pada air minum menjadi standar yang harus dipenuhi penyedia
layanan air minum hingga sekarang. Di bidang kesehatan, larutan klorin 0,5%
telah sejak lama digunakan untuk dekontaminasi alat-alat bedah seperti jahit
set dan partus set.
2.
Pemutih. Pada proses produksi kertas dan
pakaian, klorin digunakan sebagai cairan pemutih (bleaching). Di
pasaran, klorin dikemas sebagai pemutih pakaian dengan berbagai merk. Bahan
dasarnya dibuat dari natrium hidroksida dan gas klor (gas klorin dialirkan ke
dalam larutan natrium hidroksida sehingga membentuk natrium hipoklorit (NaOCl)
yang disebut zat pemutih).
B. Hipotesis
Limbah
pembuatan minyak kelapa atau biasa disebut skim dapat memutihkan pakaian karena
mengandung bahan kimia yang sama dengan bahan kimia pada pemutih pakaian.
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Eksperimen yaitu melakukan percobaan dengan mengolah buah kelapa menjadi minyak
kelapa secara fermentasi dan menghasilkan kanil (krim) dan bagian bawah (skim)
berupa yang akan digunakan sebagai pemutih pakaian.
B. Alat da Bahan
1. Alat
a)
Parut
b)
Saringan
c)
Wadah plastik
d) Wajan
e)
Spatula
f)
Gelas kimia
g)
Pipet tetes
2. Bahan
a)
Kelapa yang sudah tua
b)
Air
c)
Indikator Universal
d) Larutan AgNO3
C. Prosedur Kerja
1.
Pembuatan minyak kelapa
a. Menyiapkan
dan memilih daging kelapa yang sudah tua.
b. Mengupas
kulit kelapa dari dagingnya.
c. Memarut
daging kelapa.
d. Memeras
daging kelapa parut di atas saringan hingga diperoleh santan.
e. Menambahkan
air kedalam parutan kelapa dengan perbandingan 1 liter air untuk 1 kg kelapa
lalu mengambil santannya.
f. Menyaring
semua santan yang dihasilkan
g. Mengendapkan
santan yang telah disaring selama 24 jam sehingga terbentuk dua lapisan yaitu:
lapisan bawah berupa air dan lapisan atas berupa krim (kanil).
h. Memisahkan
krim dan air.
i.
Krim yang telah terpisah dengan air
kemudian dimasak hingga terbentuk minyak. Minyak yang telah masak dapat dilihat
dengan adanya endapan warna coklat yang bercampur pada minyak (ampas).
j.
Minyak kelapa kemudian disaring untuk
memisahkan dengan ampasnya.
2.
Pengidentifikasian kandungan kimia pada
skim
a) Skim
yang telah dipisahkan dengan kanil dimasukkan ke dalam gelas kimia.
b) Diukur
pH air dengan menggunakan indikator universal
c) Menambahkan
beberapa tetes AgNO3 untuk mengidentifikasi kandungan klorin pada larutan.
d) Perhatikan
perubahan yang terjadi pada larutan. Jika terjadi endapan putih maka larutan
tersebut mengandung klorin.
DAFTAR PUSTAKA
Desrosier, N. W. 1988. Teknologi
Pengawetan Pangan. Edisi III. Penerjemah
Muchji
Mulyohardjo. Jakarta: Universitas Indonesia.
Ketaren, S., 1986, Pengantar
Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, Penerbit
Universitas
Indonesia (UI-Press), Jakarta.
Krisno, H. Moch. Agus dkk, 2008, Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SMP/MTs
Kelas
VIII, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 129 –
130.
Purnomo,
H. 2003. Aktifitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. UI-Press, Jakarta.
Palungkun, R., 1993, Aneka
Produk Olahan Kelapa, PT. Penerbit Swadaya,
Jakarta.
Suhardiyono, L, 1993, Tanaman
Kelapa Budidaya dan Pemanfaatannya,
Kanisius,
Yogyakarta.
Wahyuni, Mita
Ir., 2000, Bertanam Kelapa Kopyor, Penebar Swadaya, Jakarta.
www.situshijau.co.id, 2008, Kelapa
Muda Pulihkan Stamina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar