Kamis, 25 Februari 2016

Contoh Proposal Penelitian



PEMANFAATAN LIMBAH PEMBUATAN MINYAK KELAPA SEBAGAI PEMUTIH PAKAIAN





 






 
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh:
Nama : Rahmawati
Nim: 1513040027
Kelas: Pendidikan Kimia A


 JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak pulau dan merupakan negara produsen kelapa utama di dunia. Hampir di semua propinsi di Indonesia dijumpai tanaman kelapa yang pengusahaannya berupa perkebunan rakyat. Hal ini merupakan peluang untuk pengembangan kelapa menjadi aneka produk yang bermanfaat. Pohon kelapa sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia karena hampir semua bagian kelapa dapat dimanfaatkan. Buah kelapa yang terdiri atas sabut, tempurung, daging buah dan air kelapa tidak ada yang terbuang dan dapat dibuat untuk menghasilkan produk industri, antara lain sabut kelapa dapat dibuat keset, sapu, dan matras. Tempurung dapat dimanfaatkan untuk membuat karbon aktif dan kerajinan tangan. Dari batang kelapa dapat dihasilkan bahan-bahan bangunan baik untuk kerangka maupun untuk dinding serta atap. Daun kelapa dapat diambil lidinya yang dapat dipakai sebagai sapu, serta barang-barang anyaman. Daging buah dapat dipakai sebagai bahan baku untuk menghasilkan kopra, minyak kelapa, coconut cream, santan dan parutan kering, sedangkan air kelapa dapat dipakai untuk membuat cuka dan nata de coco. Santan adalah cairan yang diperoleh dengan melakukan pemerasan terhadap daging buah kelapa parutan. Santan merupakan bahan makanan yang dipergunakan untuk mengolah berbagai masakan yang mengandung daging, ikan, ayam, dan untuk pembuatan berbagai kue-kue, es krim, gula-gula. Selain itu, santan juga dapat diolah menjadi minyak goreng yang diolah secara tradisional.
Di kecematan Belawa Kab.Wajo pohon kelapa masih banyak didapatkan baik disekitar pemukiman maupun kebun warga setempat. Tradisi dalam membuat minyak goreng dari buah kelapa masih banyak di jumpai. Dalam proses pembuatannya kelapa yang sudah tua diambil sarinya atau biasa disebut santan kelapa. Ada dua jenis minyak kelapa tradisional yang biasa dibuat oleh masyarakat setempat. Berdasarkan prosesnya ada dua cara yaitu yang pertama sari kelapa atau santan langsung dimasak hingga menghsilkan minyak dan yang kedua santan difermentasi selama satu hari. Pada proses fermentasi akan terbentuk dua lapisan yaitu pada lapisan atas terbentuk kanil (krim) dan pada bagian bawah terbentuk skim yang berupa air. Kanil yang terbentuk akan diolah dengan dimasak hingga menjadi minyak dan skim sebagai limbah yang tidak digunakan lagi dapat digunakan sebagai pemutih pakaian. Biasanya masyarakat setempat memamnfaatkan skim tersebut meskipun belum mengetahui apa yang menyebabkan pakaian dapat menjadi putih apabila direndam pada limbah tersebut karena hal ini merupakan tradisi turun temurun yang biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti kandungan yang terdapat pada skim hasil fermentasi dengan membandingkan zat kimia pada pemutih pakaian.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana proses pembuatan minyak kelapa?
2.    Apa kandungan kimia dari limbah pembuatan minyak kelapa sehingga dapat digunakan untuk memutihkan pakaian?
C.  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini yaitu untuk mengetahui  proses  pembuatan minyak kelapa dan kandungan kimia pada limbah pembuatan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pemutih pakaian.
D.    Manfaat Penelitian
Manfaat dari penulisan karya ilmiah ini yaitu kita dapat mengetahui proses  pembuatan minyak kelapa dan kandungan kimia pada limbah pembuatan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pemutih pakaian.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
    A.    Kajian Teori
1.      Kelapa
Kelapa (Cocos nucifera L) merupakan salah satu hasil pertanian Indonesia yang cukup potensial. Hampir semua bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Banyak kegunaan yang dapat diperoleh dari kelapa dan salah satu cara untuk memanfaatkan buah kelapa adalah mengolahnya menjadi minyak makan atau minyak goreng. Produk kelapa yang paling berharga adalah minyak kelapa, yang dapat diperoleh dari daging buah kelapa segar atau dari kopra (Suhardiyono, 1993).
Kelapa (coconut) dikenal dengan berbagai sebutan seperti Nux indica, al djanz al kindi, ganz-ganz, nargil, narle, tenga, temuai dan pohon kehidupan. Buah kelapa (cocos nucifera) termasuk famili palmae dari genus cocos. Pohon kelapa mempunyai tinggi rata-rata 12,3 meter dan sejak ditanam sampai berbuah hingga siap dipetik pohon kelapa membutuhkan waktu 12 bulan (Suhardiyono, 1993).
Pada dasarnya dikenal dua varietas kelapa, yaitu varietas Nana yang umum disebut kelapa genjah dan varietas Typica yang umum disebut kelapa dalam. Kelapa genjah berdasarkan sifatnya dibagi 5 yaitu : kelapa gading, kelapa raja, kelapa puyuh, kelapa raja malabr, kelapa hias. Kelapa dalam berdasarkan sifatnya dibagi 6 yaitu : kelapa hijau, kelapa merah, kelapa manis, kelapa bali, kelapa
kopyor, kelapa lilin (Wahyuni, Mita, Ir., 2000).
Buah kelapa terdiri dari bagian-bagian seperti:
1.      Epicarp (Kulit Luar)
Yaitu kulit bagian luar yang berwarna hijau, kuning, atau jingg permukaannya licin, agak keras dan tebalnya 0,14 mm.
2.      Mesocarp (Sabut)
Yaitu kulit bagian tengah yang disebut serabut terdiri dari bagian bersera tebalnya 3 - 5 mm.
3.       Endocarp (Tempurung)
Yaitu bagian tempurung yang keras sekali tebalnya 3 - 5 mm, bagian dalam melekat pada kulit luar biji.
4.       Testa ( Kulit Daging Buah )
Yaitu bagian dari warna kuning sampai coklat.
5.      Endosperm (Daging Buah )
Yaitu bagian yang berwarna putih dan lunak, sering disebut daging kelapa yang tebalnya 8 - 10 mm.
6.       Air Kelapa
Yaitu bagian yang berasa manis, mengandung mineral 4%, gula 2%, dan air.
7.       Lembaga
Yaitu bakal tanaman setelah buah tua. Sumber : Palungkun, Rony (1993)

   2. Buah Kelapa
Satu pohon kelapa dapat berbuah mulai dari 10 hingga 13 kali dalam setahun. Buah kelapa tumbuh dalam rumpun, bisa mencapai 12 buah per rumpun. Daging buah kelapa merupakan bagian yang paling penting dari komoditi asal pohon kelapa. Daging buah merupakan lapisan tebal berwarna putih. Bagian ini mengandung berbagai zat gizi. Kandungan zat gizi tersebut beragam sesuai dengan tingkat kematangan buah. Selama perkembangannya, buah kelapa secara kontinyu mengalami kenaikan berat. Ukuran berat maksimum tercapai pada bulan ketujuh. Pada saat itulah jumlah air kelapa mencapai maksimal. Setelah periode tersebut, air kelapa berkurang jumlahnya dan daging kelapa mengalami penebalan. Penebalan daging mencapai puncaknya pada bulan ke-9. Di atas bulan ke-10, kelapa dapat dikatakan tua. Pada periode tersebut, kadar air semakin berkurang. Itulah yang menyebabkan kelapa tua akan berbunyi jika dikocok-kocok. Buah kelapa tua terdiri dari empat komponen utama, yaitu: 35 persen sabut, 12 persen tempurung, 28 persen daging buah, dan 25 persen air kelapa. Daging buah tua merupakan bahan sumber minyak nabati (kandungan minyak 30 persen).
Perbedaan mendasar antara daging buah kelapa muda dan tua adalah kandungan minyaknya. Kelapa muda memiliki rasio kadar air dan minyak yang besar. Kelapa disebut tua jika rasio kadar air dan minyaknya optimum untuk menghasilkan santan dalam jumlah terbanyak. Sebaliknya, bila buah kelapa terlalu tua, kadar airnya akan semakin berkurang. Pada kondisi tersebut, hasil santan yang diperoleh menjadi sedikit. Sumber : www.situshijau.co.id

3. Minyak Kelapa
Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam lemak digolongkan ke dalam minyak asam laurat, karena kandungan asam lauratnya paling besar jika dibandingkan dengan asam lemak lainnya. Berdasarkan tingkat ketidakjenuhannya yang dinyatakan dengan bilangan Iod (iodine value), maka minyak kelapa dapat dimasukkan ke dalam golongan non drying oils, karena bilangan iod minyak tersebut berkisar antara 7,5-10,5.
Komposisi asam lemak minyak kelapa dapat dilihat pada tabel 2.2. Dari
tabel tersebut dapat dilihat bahwa asam lemak jenuh minyak kelapa kurang dari 90 persen. Minyak kelapa mengandung 84 persen trigliserida dengan tiga molekul asam lemak jenuh, 12 persen trigliserida dengan dua asam lemak jenuh dan 4 persen trigliserida dengan satu asam lemak jenuh.

Tabel 2.1. Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa
Asam Lemak
Rumus Kimia
Jumlah (%)

Asam Lemak Jenuh :



Asam Kaproat
C5H11COOH
0,0 – 0,8

Asam Kaprilat
C7H17COOH
5,5 – 9,5

Asam Kaprat
C9H19COOH
4,5 – 9,5

Asam Laurat
C11H23COOH
44,0 – 52,0

Asam Miristat
C13H27COOH
13,0 – 19,0

Asam Palmitat
C15H31COOH
7,5 – 10,5

Asam Stearat
C17H35COOH
1,0 – 3,0

Asam Arachidat
C19H39COOH
0,0 – 0,4

Asam Lemak Tidak Jenuh :



Asam Palmitoleat
C15H29COOH
0,0 – 1,3

Asam Oleat
C17H33COOH
5,0 – 8,0

Asam Linoleat
C17H31COOH
1,5 – 2,5

Sumber: Thieme, J. G. (1968) dikutip dari Ketaren, 1986.

4. Zat Pemutih (Klorin)
Klor adalah desinfektan kimia yang digunakan secara luas, terutama digunakan dalam klorinasi air untuk air minum dan tujuan pengolahan. Paling efektif bekerja pada harga pH yang rendah (Desrosier, 1988).
Klor yang biasa digunakan sebagai pemutih jenis dasar adalah Sodium Hipoklorit dan Kalsium Hipoklorit. Kedua senyawa tersebut juga bisa sebagai penghilang noda atau desinfektan. Pemutih jenis dasar terdiri atas dua yaitu padat dan cair. Pemutih padat adalah Kalsium Hipoklorit (CaOCl2) berupa bubuk putih atau yang biasa dikenal sebagai kaporit. Sedangkan pemutih cair adalah Sodium Hipoklorit (NaOCl) yang merupakan cairan berwarna sedikit kekuningan, beraroma khas dan menyengat (Purnomo, 2003).
Menurut Suryatin (2008), Bahan pemutih dibedakan berdasarkan jenis penggunaannya. Terdapat beberapa jenis bahan pemutih yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya bahan untuk memutihkan pakaian, bahan pemutih kulit, dan bahan pemutih untuk makanan.
a. Bahan Pemutih Pakaian

Bahan pemutih untuk pakaian adalah senyawa klorin. Senyawa ini dapat mengoksidasi zat warna yang melekat pada pakaian sehingga pakaian menjadi putih. Zat warna yang melekat pada pakaian dapat berasal dari luar pakaian, dapat pula dari zat warna pada pakaian itu sendiri. Efek negatif bahan pemutih pakaian diantaranya dapat menyebabkan kita terbakar, bersifat racun, berbahaya jika terkena mata.
Bahan utama pemutih padat (bubuk putih) adalah kalsium hipoklorit dengan rumus kimia Ca(ClO)2 yang secara umum dikenal sebagai kaporit. Bahan ini lazim dipakai untuk mensucihamakan air PAM dan kolam renang. Bahan utama pemutih cair adalah natrium hipoklorit dengan rumus NaOCl.
Natrium hipoklorit dan kalsium hipoklorit mempunyai sifat multifungsi. Selain sebagai pemutih, kedua senyawa ini dapat berfungsi sebagai penghilang noda dan disinfektan (sanitizer). Fungsi ganda NaOCl sebagai penghilang noda maupun disinfektan dapat menjadi peluang tersendiri dalam penjualan. Kita dapat mengetahui kandungan bahan kimia yang terdapat di dalam pemutih dari kemasannya. Dengan menggunakan pemutih yang biasanya mengandung bahan kimia utama klorin dan natrium perborat, pakaian putih yang ternoda dapat menjadi lebih putih cemerlang. Meskipun demikian, kita harus berhati-hati dalam penggunaannya. Bahan kimia klorin dan natrium perklorat adalah bahan aktif yang cukup berbahaya. Penggunaan pemutih yang kurang berhati-hati akan menyebabkan lunturnya kain berwarna.
Pemutih (bleaching agent) adalah bahan-bahan kimia yang dapat digunakan untuk mengatasi kotoran yang membandel pada pakaian. Bahan aktif yang terkandung dalam pemutih pakaian, antara lain natrium hipoklorit atau natrium perklorat. Namun demikian, pemakaian pemutih yang terlalu sering dan berlebihan dapat menyebabkan pakaian cepat rusak. Ini disebabkan bahan aktif tersebut dapat merusak partikel-partikel dan serat kain. Pemakaian pemutih yang berlebih dan terlalu sering menyebabkan seratserat kain menjadi keras dan rapuh. Supaya pakaian tidak cepat rusak maka sebaiknya pemakaian pemutih hanya bila diperlukan saja. Pemutih sebaiknya hanya digunakan jika penggunaan detergen biasa tidak mampu mengangkat kotoran secara bersih. Perlu diketahui, pemutih pakaian dapat mengakibatkan memudarnya warna pada pakaian berwarna. 
Pemakaian pemutih yang berlebihan juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Zat aktif dalam pemutih dimungkinkan dapat membunuh bakteri dalam tanah. Cara mengatasi limbah pemakaian pemutih hampir sama dengan penanggulangan limbah sabun dan detergen.( Sumber : Krisno,2008)
Menurut Sari (2011), adapun kegunaan dari klorin adalah sebagai berikut:
1.      Desinfektan. Klorin digunakan untuk desinfeksi air termasuk air untuk mandi, kolam renang dan juga air minum. Klorin digunakan sebagai desinfektan air minum karena mempunyai efek dapat membunuh bakteri E. Coli serta Giardia dan harganya murah. Penambahan klorin pada air minum menjadi standar yang harus dipenuhi penyedia layanan air minum hingga sekarang. Di bidang kesehatan, larutan klorin 0,5% telah sejak lama digunakan untuk dekontaminasi alat-alat bedah seperti jahit set dan partus set.
2.      Pemutih. Pada proses produksi kertas dan pakaian, klorin digunakan sebagai cairan pemutih (bleaching). Di pasaran, klorin dikemas sebagai pemutih pakaian dengan berbagai merk. Bahan dasarnya dibuat dari natrium hidroksida dan gas klor (gas klorin dialirkan ke dalam larutan natrium hidroksida sehingga membentuk natrium hipoklorit (NaOCl) yang disebut zat pemutih).

    B.     Hipotesis
Limbah pembuatan minyak kelapa atau biasa disebut skim dapat memutihkan pakaian karena mengandung bahan kimia yang sama dengan bahan kimia pada pemutih pakaian.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Eksperimen yaitu melakukan percobaan dengan mengolah buah kelapa menjadi minyak kelapa secara fermentasi dan menghasilkan kanil (krim) dan bagian bawah (skim) berupa yang akan digunakan sebagai pemutih pakaian.
B.     Alat da Bahan
1. Alat
a)      Parut
b)      Saringan
c)      Wadah plastik
d)     Wajan
e)      Spatula
f)       Gelas kimia
g)      Pipet tetes
2. Bahan
a)      Kelapa yang sudah tua
b)      Air
c)      Indikator Universal
d)     Larutan AgNO3
C.    Prosedur Kerja
1.      Pembuatan minyak kelapa
a.       Menyiapkan dan memilih daging kelapa yang sudah tua.
b.      Mengupas kulit kelapa dari dagingnya.
c.       Memarut daging kelapa.
d.      Memeras daging kelapa parut di atas saringan hingga diperoleh santan.
e.       Menambahkan air kedalam parutan kelapa dengan perbandingan 1 liter air untuk 1 kg kelapa lalu mengambil santannya.
f.       Menyaring semua santan yang dihasilkan
g.      Mengendapkan santan yang telah disaring selama 24 jam sehingga terbentuk dua lapisan yaitu: lapisan bawah berupa air dan lapisan atas berupa krim (kanil).
h.      Memisahkan krim dan air.
i.        Krim yang telah terpisah dengan air kemudian dimasak hingga terbentuk minyak. Minyak yang telah masak dapat dilihat dengan adanya endapan warna coklat yang bercampur pada minyak (ampas).
j.        Minyak kelapa kemudian disaring untuk memisahkan dengan ampasnya.
2.      Pengidentifikasian kandungan kimia pada skim
a)      Skim yang telah dipisahkan dengan kanil dimasukkan ke dalam gelas kimia.
b)      Diukur pH air dengan menggunakan indikator universal
c)      Menambahkan beberapa tetes AgNO3 untuk mengidentifikasi kandungan klorin pada larutan.
d)     Perhatikan perubahan yang terjadi pada larutan. Jika terjadi endapan putih maka larutan tersebut mengandung klorin.


DAFTAR PUSTAKA

Desrosier, N. W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Edisi III. Penerjemah
Muchji Mulyohardjo. Jakarta: Universitas Indonesia.
Ketaren, S., 1986, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, Penerbit
Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta.
Krisno, H. Moch. Agus dkk, 2008, Ilmu Pengetahuan Alam Untuk  SMP/MTs    
Kelas VIII, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 129  – 130.
Purnomo, H. 2003. Aktifitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. UI-Press, Jakarta.
Palungkun, R., 1993, Aneka Produk Olahan Kelapa, PT. Penerbit Swadaya,
Jakarta.
Suhardiyono, L, 1993, Tanaman Kelapa Budidaya dan Pemanfaatannya,
Kanisius, Yogyakarta.
Wahyuni, Mita Ir., 2000, Bertanam Kelapa Kopyor, Penebar Swadaya, Jakarta.
www.situshijau.co.id, 2008, Kelapa Muda Pulihkan Stamina.
 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar