KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu melimpahkan karunia-Nya,
kepada seluruh umat manusia, yang atas izin-Nya sehingga penulis mampu
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “MASALAH TIMOR TIMUR” ini dapat
selesai tepat pada waktunya.
Sejalan dengan dinamika
bangsa ini masih terus mencari cara yang lebih efektif untuk menghasilkan
generasi baru yang cerdas, maka dari itu penulis mendukung semua itu dengan
cara mencari sesuatu yang jarang ditampilkan dan banyak dipertanyakan salah
satunya dengan membuat makalah ini, yang dapat bermanfaat dengan berbagai pokok
masalah.
Dengan adanya makalah,
mudah-mudahan dapat mengembangkan pengetahuan sains para kaum pelajar untuk
lebih maju dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kami sadar bahwa maklah yang
penulis buat ini, masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan
saran dari berbagai pihak untuk perbaikan isi makalah ini, kami sambut dengan senang hati.
Belawa,
6 DESEMBER 2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
..................................................................
A.
Latar Belakang.................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah .............................................................. 1
C.
Tujuan................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................
A.
PERISTIWA
PERISTIWA PENTING SEBELUM
TIMOR TIMUR BERINTEGRASI KE INDONESIA.... 3
B.
KONDISI TIMOR
TIMUR SETELAH INTEGRASI KE
INDONESIA...................................................................... 4
C.
FAKTOR PENYEBAB
LEPASNYA TIMOR TIMUR
DARI INDONESIA.......................................................... 5
D.
UPAYA PEMERINATAH
INDONESIA DALAM
MEMPERTAHANKAN TIMOR TIMUR........................ 6
E.
PENERAPAN
NILAI-NILAI PERJUANGAN INDONESIA
DALAM MENGISI DAN MEMPERTAHANKAN
KEMERDEKAAN............................................................. 9
BAB III PENUTUP................................................................................
A.
KESIMPULAN ................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ iii
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Turunnya
Soeharto dari kursi kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 sebagai salah satu
presiden terlama di dunia ketika ditetapkan oleh MPR untuk masa jabatan yang
ke-7 pada tanggal 11 Maret 1998. Tetapi setelah dua bulan jabatan ke-7 Soeharto
rezim orde baru runtuh. Soeharto yang selama 32 tahun memanipulasi eksistensi
DPR dan MPR untuk mengkokohkan kekuasaannya akhirnya dilengserkan oleh lembaga
yang sama pula, lewat pernyataaan pers tanggal 18 Mei 1998 oleh ketua DPR
harmoko yang didampingi Ismail Hasan Meutareum, Fatimah Achmad dan utusan
daerah di depan wartawan dan mahasiswa menyampaikan pernyataan bahwa “Demi
kemakmuran persatuan dan kesatuan bangsa pimpinan dewan baik ketua maupun
wakil-wakilnya mengharpkan agar presiden secara arif dan bijaksana mengundurkn
diri dari jabatannya”.
Usaha
terakhir Soeharto mempengaruhi rakyat menyampaikan pernyataan di hadapan pers
pada tanggal 19 Mei 1998 bahwa selaku mandataris MPR Presiden akan mereshuffle
kabinet pembangunan VII yang membetuk komite reformasi, untuk lebih meyakinkan
rakyat bahwa tugas omite ini segera menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepertaian, UU
Susunan dan Kedudukan DPR, MPR, dan DPRD UU anti monopoli, UU Anti Korupsi dan
hal lainnya yang sesuai dengan tuntutan rakyat. Akan tetapi, Soeharto terpojok karena
14 mentri tidak bersedia untuk sepakat dalam komite reformasi tersebut.
Penolakan
ini melemahkan posisi Soeharto sebagai presiden karena dukungna untuk membentuk
komite reformasi gagal ditambah lagi banyak desakan yang menganjurkan presiden
untuk mundur dan berhenti. Pada pagi harinya 21 Mei 1998 pukul 09.00 yang
dihadiri Menhankam, Mensesneg, Menteri Penerangan, Menteri kehakiman dan Wapres
B.J Habibie beserta pimpinan Mahkamah Agung , Ketua DPR dihadapan wartawan
dalam dan luar negeri presiden Soeharto menyampaikan mengundurkan dirinya.
Setelahnya wakil presiden B.J Habibie lansung dilantik sebagi presiden
menggantikan Soeharto dan diangkat sumpahnya menjadi presiden RI ke-3 dihadapan
pim[inan MA. Peristiwa ini disambut baik oleh masyrakatterutama para mahasiswa
yang berada di Gedung MPR maupunDPR dan rezim kekuasaan orde baru Soeharto
resmi dirunruhkan dan era reformasi mulai dibawah pemerintahan B.J Habibie.
Gerakan
reformasi dilakukan sebagai bentuk ungkapan kekecewaan yang dirasakan oleh
rakyat Indonesia dan dilakukan pada saat terjadi krisis multidimensidi
Indonesia. Dengan momentum reformasi itu persoalan status Timor-Timur yang
sudah ada pada masa pemerintahan Soeharto menarik perhatian PBB dan masyarakat
Internasional diharapkan memperolrh kejelasan. Tetapi pada akhirnya masalah
status Timor Timur akhirnya lepas dari NKRI.
B. Rumusan Masalah
Masalah
yang dapat dirumuskan yaitu:
1. Peristiwa
apa yang mendorong penting sebelum Timor Timur resmi berintegrasi ke NKRI?
2. Bagaimana
kondisi Timor Timur setelah integrasi ke Indonesia?
3. Bagaimana
upaya pemerintahan Indonesia untuk mempertahankan wilayah Timor timur?
4. Faktor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya
pelepasan wilayah Timor Timur?
5. Apa
saja penerapan nilai-nilai perjuangan
bangsa Indonesia dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan?
C. Tujuan
Adapun
tujuan dari pembuatan makalh ini yaitu untuk mengetahui:
1.Peristiwa-peristiwa
penting sebelum Timor Timur resmi berintegrasi ke NKRI.
2.Kondisi Timor Timur
setelah integrasi ke Indonesia.
3.Faktor yang menyebabkan terjadinya pelepasan
wilayah Timor Timur
4.Upaya pemerintahan
Indonesia untuk mempertahankan wilayah Timor Timur.
5.Penerapan nilai-nilai
perjuangan bangsa Indonesia dalam
mengisi dan mempertahankan kemerdekaan.
BAB 2
PEMBAHASAN
Peristiwa-peristiwa
sekitar integrasi Timor Timur dengan Indonesia pada tahun 1976 juga ikut
memegang peranan dalam hubungan Australia-Indonesia. Sesudah Portugis melepas
daerah jajahannyatersebut di tahun 1975, Angkatan bersenjat Indonesia memasuki
Timor Timur pada bulan Desember 1975 dan kawasan ini menjadi satu dengan
kawasan Republik Indonesia di tahun 1976. Hal ini menyebabbkan perdebatan di
Australia. Di samping itu, kematian lima wartawan Australia di Timor Timur di
tahun 1975 telah menjadi perhatian
masyrakat Australia dan Media. Namun pada akhirnya Australia mengakui
kedaulatan Indonesia secara de jure
tahun 1979. Dalam dinamika politik telah berubah secara dramatis dengan
jatuhnya pemerintahan mantan presiden Soeharto. Pada tahun 1999, melalui jajak
pendapat, rakyat Timor Timur memilih merdeka (78.5%). Pengumuman hasil
pemilihan umum tersebut diikuti dengan
kekerasan yamg meluas dari unsure-unsur pro integrasi. Australia kemudian
diminta oleh PBB untuk memimpin kekuatan Internsional di Timor Timur atau
Internasional Force in East Timor (disingkat INTERFET) dalam menjalankan
tugasnya untuk mengembalikan perdamaian dan kemanan di kawasan tersebut. Pada
tanggal 20 oktober MPR mencanut keputusan penyatuan Timor Timur dengan
Indonesia.
A. Peristiwa-peristiwa Penting
sebelum Timor Timur Berintegrasi ke Indonesia
Gagasan
mengenai integrasi Timor Timur ke wilaya Indonesia tidak mendapat dukungan
penuh dari rakyatnya. Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting sebelum
Timor Timur resmi berintegrasi ke Indonesia:
1) Pada
tanggal 4 November 1974 terjadi
pergantian Gubernur dari Fernando Alves Aldelia kepada Kolonel Lemos Pires. Kebijakan
yang dikeluarkan Pires selalu senderung ke Partai Fretelin, sehingga
jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan didominasi oleh Partai Fretelin.
Disamping itu, Fretelin bertindak kersa terhadap pendukung UDT dan Apodeti
sehingga sekitar 50.000 orang melarikan diri ke Indonesia.
2) Pada
tanggal 27 Mei 1975 terjadi
perubahan nama dari UDT menjadi MAC
yaitu Movimento Anti Comunistis dan
bergabung dengan Apodeti, Kota dan Trabalista untuk melawan Fretelin.
3) Pada
tanggal 5 November 1975, di Timor
Timur berhasil dilakukan perundingan antara Indonesia, Portugis, dan Roma yang
menandatagani sebuah dokumen berupa Memorandum of Understanding sehingga
Negara Portugis tidak bias hanya mengakui satu partai saja.
4) Pada
tanggal 28 November 1975, Frtelin mengeluarka proklamasi Balibo yang berisi
terbentuknya Negara Republik Demokrasi Timor Timur dengan presidennya Xavier de
Amaral. pembentukan Negara Republik Demokrasi Timor Timur itu dilakukan sepihak
dari Fretelin sehingga hal itu ditentang oleh partai lainnya seperti Apodeti,
Kota, UDT dan Trabalista. Dampak dari dikeluarkannya proklamasi aBalibo adlah
terjadinya perang saudara di Timor Timur, sehingga banyak penduduk Timor Timur
yang melarika diri ke Indonesia. Fretelin banyak melakukan pembamtaian dan
kekerasna yang mendapat bantuan persenjataan dari Portugis. Melihat kondisi di
Timor Timur yang semakin genting, menyebabkan pemimpin UDT-MAC mendesak
pemerintah Indonesia menerima Timor Timur sebagai provinsi ke-27. Mereka
membuat deklarsi penggabungan Timor Timur Ke Indonesia yang didukung Oleh
Apodeti, Kota dan Trabalista. Usaha mereka untuk melawan Fretlin diwujudkan
dengan membentuk pemerintahan sementara timor Timur.
5) Pada tanggal 17 Desember 1975. Pemerintahan sementara Timor TImur dipimpin oleh
Arnoldo Reis Araujo dan wakilnya Lopez
de Cruz yang berkedudukna di Dili. Setelah PSTT terbentuk, maka dibentuk
lembaga lain yaitu DPR sebagai lembaga legislative. Kedua lembaga pemerintahan
tersebut dibentuk denagn tujuan sebagai alat penyelenggara pemerintahan dan sebagai
wadah untuk menampung seluruh aspirasi rakyat secara objektif.
6) Pada
tanggal 3 Mei 1976, berhasil
diadakan siding paripurna DPR Timor Timur yang diikuti oleh 13 kabupaten yang
dapat menghasilkan Petisi Integrasi Timor Timur. Akhirnya pada tanggal 17 Juli 1976 secara resmi Timor Timur berintegrasi ke Indonesia menjadi bagian
provinsi Indonesia yang ke 27 dengan ibukotanya Dili dan dipimpin oleh Arnaldo
de Reis arujo yang menjadi Gubernur Timor Timur yang pertama sedangkan wakilnya
adlah Fransisico Xavier Lopez de Cruz. Dasar pengesahan Timor Yimur menjadi
bagian dari wilayah RI adalah Undang-Undang No.7 tahun 1976 dan diperkuat dengan Tap MPR No.VI/MPR/1978. Integrasi Timor
TImur ke Indonesia mendapat simpati dari Negara asig seperti Amerika Serikat ynag
diwujudkan dengan memberikan bantuan modal untk kemajuan Timor Timor sebasar
951 dollar melalu IGGI dan Australia mengakui secara De jure bahwa Timor Timur
merupakan Bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B. Kondisi Timor Timur setelah Integrasi
ke Indonesia
Integrasi
Timor Timur ke Indonesia dalam perkembangannya lebih banyak menyusahkan
pemerintahan Indonesia, sebab rakyat Timor Tmur memiliki latar belakang
berbeda, sehingga setiap pemerintahan Indoneisa mengeluarkan
kebijakan-kebijakannya, baik di sector politik, ekonomi, maupun social budaya
menimbulkan masalah-masalah baru dalam masyrakat yang menggangggu keamanan dan
kestabilan politik. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh pengikut Fretelin di
luar negeri untuk mencari dukungan dnegan mengumumkan adanya pelanggaran HAM
yag dilakukan oleh Jose ramos Horta. Namun demikian, pemerintahan Indonesia
berupaya membenahi dan menata kembali kehidupan masyrakat Timor Timur agar
lebih baik dan sejajar dengan provinsi-provinsi lainnya yang ada di Indonesia.
Perubahan dilakukan oleh pemerintah Indonesia menyangkut segala bidang
kehidupan yaitu,
1. Bidang
Pertanian
Ada beberapa perubahab yang dilakukan
untuk menigkatkan produktivitas pertanian yaitu,
·
Pembangunan saluran-saluaran irigasi.
·
Pembukaan lahan pertanian yang baru.
·
Mendirikan Badan Unit Desa (BUD) dan
Kopersai Unit Desa ( KUD).
·
Memberikan penyuluhan kepada para petani
tentang cara bertani.
2. Bidang
transportasi digunakan untuk meningkatkan saran perhubungan dengan cara,
·
Pemerintah membangun jalan dan jembatan.
·
Membuat rute angkutan umum.
·
Membangun lapangan terbang.
·
Memperbaiki pelbuhan laut.
3. Bidang
Kesehatan
·
Membagun beberapa rumah skait dan
puskesmas.
·
Membangun pos pelayan terpadu di setiap
desa atau kelurahan.
4. Bidang
Pendidikan
·
Membangun berbagai sarana pendidikna .
·
Membangun gedung-gedung sekolah dan
Universitas Cendrawasih.
·
Membangun lembaga-lembaga penelitian dan
pelatihan.
·
Mengirimkan beberapa guru dari Jawa.
Usaha
pemerintah Indonesia untuk memajukan Prvinsi Timor Timur tidak diimbangi dengan
pemberian kebebasan rakyat dalam menyalurkan pendapatnya, sehingga kebebasan
untuk berbicara diabaikan oleh
pemerintahan Indonesia. Akibatnya, dalam masyarakat muncul konflik antara
pendukung integrasi dengan antiintegrasi. Namun stekah berajhirnay perang
dingin yang dimenangkan oleh Ameriak serikat akibat keruntuhna Uni Soviet,
integarsi Timor Timur dipertanyakan oleh Ameriak Serikat dan Australia yang semula mendukung integrsi Timor Timur ke
Indonesia. Mereka menekan Indonesia untuk melakukan referendum.
C. Faktor Penyebab Lepasnya
Indonesia dari Timor Timur
1) Tidak
terpenuhinya hak-hak dasar rakyat seperti kesejahteraan, keadilan, keamanan,
pendidikan dan kesehatan. Belum lagi minimnya srana pendidikan, kesehatan
maupun transportasi disana. Perkara inilah yang membuat saudara-saudara kita di
Timor Timur tertarik dengan ide kemerdekaan.
2) Lemahnya
kesadaran politik masyrakat. Ide-ide disintegarsi merupakan lat permainan Negara-negara
kapitalis penjajah. Yang diuntungkan dari disintergasi adalah Negara-negara
penjajah. Karena itu, meminta bantaun kepada Negara kapitalis penjajah
sesungguhnnya bukanlah solusi, tetapi justru akan menimbulkan penderitaan baru.
D. Upaya Pemerintah Indonesia dalam
Mempertahankan Timor Timur
1) Otonomi
luas yang dibrikan pada Timor Timur.
2) Kebebasan
berupa jejak pendapat bagi masyarakat Timor Timur untuk tetap memilih menjadi
bagian Indonesia ataukah memisahkan diri dan merdeka.
3) Kebijakan
B.J Habibie dengan memberiakan opsi
referendum untuk mencapai solusi final atas masalah Timor Timur.
Munculnya
tekanan-tekanan dari masyararakat Internasional menanggapi kasus-kasusyang
terjadi di Timor Timur itu memaksa Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan guna
mengakomodasi aspirasi masyarakat Timor Timur. Tekanan ini juga mendorong
pemerintah Indonesia untuk membahas masalah ini ke tingkat Internasional.
Akhirnya pada juni 1998, pemerintah Indonesia memutuskan untuk memberikan
status khusus berupa otoomi luas kepada Timor Timur. Usulan Indonesia itu
disampaikan kepada sekjen PBB. Sebagai piha selanjutnya, PBB pun mengadakan
pembicaraan segitiga antara Indonesia, Portugal, dan PBB. Selama pembicaraan
ini , masih terjadi kerusuhan antara piha pro kemerdekaan dan pro integrasi di
Timor Timur. Kerusuhan ini semakin menambah kecaman dari masyarakat
Inetrnasional, khususnya dari Negara-negara Barat, yang merupakan sasran utama
speech act dalam usaha sekuritisasi kasus Timor Timur.
Berangkat
dari pembicaraan tiga pihak serta kecaman semakin keras, dari dunia
Internasional, Indonesia memutuskan untuk melaksanakan jajak pendapat rakyat
Timor Timur dilakukan secara langsung. Menanggapi keputusna Indonesiatersebut,
pihak-pihak yang berda dalam pembicaraan segitiga diatas menyepakatiPersetujuan
New York ynag mencakup masalah teknis dan subtansi jajak pendapat.jajak
pendapat pun berakhir di pihak pro kemerdekaan Timor Timur. Dengan
kemenangannya ini, Timor Timur meraih sebuah kedaulatan menjadi sebuah Negara. Kedaulatan
negara merupakan satu hal yang selama ini dikejar oleh pihak Timor Timur.
berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Indonesia, yang dibuktikan oleh
Peristiwa Santa Cruz menjadi batu loncatan bagi usaha sekuritisasi perjuangan
meraih kembali kedaulatan Timor Timur.
Kunci dari
berhasilnya perjuangan meraih kemerdekaan Timor Timur adalah dukungan
internasional. Oleh karena itu sekuritisasi menjadi hal yang sangat penting
untuk dilakukan oleh Timor Timur. Berbagaispeech
act telah dilakukan oleh securitizing
actor untuk meraih dukungan internasional. Usaha sekuritisasi ini mencapai
keberhasilannya tidak hanya saat Timor Timur merdeka dari Indonesia, namun juga
saat sejumlah negara mulai mendukung perjuangan kemerdekaan Timor Timur.
Pada HUT ke-10 The Habibie Center,
mantan Presiden BJ Habibie menyatakan Timor Leste tidak pernah masuk Proklamasi
RI. Alasannya, karena yang diproklamasikan adalah Hindia Belanda (Kompas,
9/11/2009). Pernyataan ini patut pula kita salami karena terkait masa
lalu Indonesia yang secara historis banyak menyimpan anakronisme yang
menyamarkan beragam fakta. Timor Leste adalah contoh. Semula negeri itu
dianggap berintegrasi ke NKRI sebagai Timor Timur. Ternyata bekas koloni
Portugis itu dianeksasi melalui semacam invasi militer tahun 1975.
Dinamika
politik dalam negeri Indonesia telah berubah secara dramatis dengan jatuhnya
Pemerintahan mantan Presiden Soeharto. Di bulan Januari 1999, diumumkan bahwa
Indonesia akan menawarkan otonomi kepada Timor Timur. Jika rakyat Timor Timur
menolak tawaran ini, maka Indonesia akan menerima pemisahan diri Timor Timur
dari Republik Indonesia. Pada tanggal 5 Mei 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB), Indonesia dan Portugis menandatangani Perjanjian Tripartit yang
menyatakan bahwa PBB akan menyelenggarakan jajak pendapat di Timor-Timur.
Rakyat diminta memilih apakah Timor Timur tetap menjadi bagian dari Indonesia
ataukah Timor Timur menjadi negara merdeka. Habibie mengeluarkan pernyataan
pertama mengenai isu Timor Timur pada bulan Juni 1998 dimana ia mengajukan
tawaran untuk pemberlakuan otonomi seluas-luasnya untuk provinsi Timor Timur.
Proposal ini, oleh masyarakat internasional, dilihat sebagai pendekatan baru.
Di akhir
1998, Habibie mengeluarkan kebijakan yang jauh lebih radikal dengan menyatakan
bahwa Indonesia akan memberi opsi referendum untuk mencapai solusi final atas
masalah Timor Timur.
Beberapa
pihak meyakini bahwa keputusan radikal itu merupakan akibat dari surat yang
dikirim Perdana Menteri Australia John Howard pada bulan Desember 1998 kepada Habibie
yang menyebabkan Habibie meninggalkan opsi otonomi luas dan memberi jalan bagi
referendum. Akan tetapi, pihak Australia menegaskan bahwa surat tersebut hanya
berisi dorongan agar Indonesia mengakui hak menentukan nasib sendiri (right of self-determination) bagi
masyarakat Timor Timur. Namun, Australia menyarankan bahwa hal tersebut
dijalankan sebagaimana yang dilakukan di Kaledonia Baru dimana referendum baru
dijalankan setelah dilaksanakannya otonomi luas selama beberapa tahun lamanya.
Karena itu, keputusan berpindah dari opsi otonomi luas ke referendum merupakan
keputusan pemerintahan Habibie sendiri.
Aksi
kekerasan yang terjadi sebelum dan setelah referendum kemudian memojokkan
pemerintahan Habibie. Legitimasi domestiknya semakin tergerus karena beberapa
hal. Pertama, Habibie dianggap tidak mempunyai hak konstitusional untuk memberi
opsi referendum di Timor Timur karena ia dianggap sebagai presiden
transisional. Kedua, kebijakan Habibie dalam isu Timor Timur merusakan hubungan
saling ketergantungan antara dirinya dan Jenderal Wiranto, panglima TNI pada
masa itu. Di hari-hari jatuhnya Suharto dari kursi kepresidenannya, Jenderal
Wiranto dilaporkan bersedia mendukung Habibie dengan syarat Habibie mengamankan
posisinya sebagai Panglima TNI. Sementara itu, Habibie meminta Wiranto
mendukung pencalonan Akbar Tanjung sebagai Ketua Golkar pada bulan Juli 1998.
Hal ini cukup sulit bagi Wiranto karena calon lain dalam Kongres Partai Golkar
adalah Edi Sudrajat yang didukung oleh Try Sutrisno, kesemuanya adalah mantan
senior Jenderal Wiranto. Namun Wiranto tidak memiliki pilihan lain dan
menginstruksikan semua pimpinan TNI di daerah untuk mendorong semua ketua
Golkar di daerah untuk memilih Akbar Tanjung Habibie
kehilangan legitimasi baik dimata masyarakat internasional maupun domestik. Di
mata internasional, ia dinilai gagal mengontrol TNI, yang dalam
pernyataan-pernyataannya mendukung langkah presiden Habibie menawarkan
refendum, namun di lapangan mendukung milisi pro integrasi yang berujung pada
tindakan kekerasan di Timor Timur setelah referendum.
Di mata
publik domestik, Habibie juga harus menghadapi menguatnya sentimen nasionalis,
terutama ketika akhirnya pasukan penjaga perdamaian yang dipimpin Australia
masuk ke Timor Timur. Sebagai akibatnya, peluang Habibie untuk memenangi
pemilihan presiden pada bulan September 1999 hilang. Sebaliknya, citra TNI
sebagai penjaga kedaulatan territorial kembali menguat. Padahal sebelumnya
peran politik TNI menjadi sasaran kritik kekuatan pro demokrasi segera setelah
jatuhnya Suharto pada bulan Mei 1998.
Tanggal 30
Agustus merupakan tanggal yang sangat sakral dalam dinamika perpolitikan Negara
yang seumur jagung ini. Pada hari itu diadakan jajak pendapat di Timor Leste
(pada saat itu masih bernama Timor Timur). Jajak pendapat inilah yang nantinya
berujung pada kemerdekaan (bekas) provinsiTimor Timur ini. Pada akhirnya, hasil
jajak pendapat tersebutlah yang dapat menjawab nasib rakyat Timor Leste
selanjutnya. Sebagian besar rakyat Timor Timur lebih memilih untuk merdeka
(78.5%). Pengumuman hasil pemilihan umum tersebut diikuti dengan kekerasan yang
meluas oleh unsur-unsur pro-integrasi.
Seperti yang
telah disebutkan sebelumnya, bahwa pada akhirnya, pasukan Australia lah yang
menjadi pahlawan dalam kasus ini. Australia telah memperhitungkan semua ini
secara cermat dan tepat. Australia memainkan peranan pokok dalam memobilisasi
tanggapan internasional terhadap krisis kemanusiaan yang membayang nyata.
Pasukan penjaga perdamaian yang dipimpin Australia masuk ke Timor Timur.
Jakarta menyetujui keterlibatan angkatan internasional pemilihara keamanan di
kawasan ini. Australia diminta oleh PBB untuk memimpin angkatan tersebut, dan
menerima tugas ini. Kekuatan internasional di Timor Timur atau International Force in East Timor (disingkat
INTERFET) telah berhasil dikirim ke Timor Timur dan menjalankan tugasnya untuk
mengembalikan perdamaian dan keamanan di kawasan tersebut. Pada tanggal 20
Oktober, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mencabut keputusan penyatuan
Timor Timur dengan Indonesia.
E. Penerpan Nilai-Nilai
Perjuangan Bangsa Indonesia dalam
Mengisi dan Mempertahankan Kemerdekaan
Dalam
upaya mengisi dan memperthankan kemerdekaan Indonesia, banyak cara yang dilakukan oleh pemerintah agar
tercipta kehidupan masyarakt yang adil dan makmur merata secara material dan
spiritual iitu terwujud. Akan tetapi, banya sekali hambatan yang dihadapi
pemerintah, salah satunya adalh munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin
melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga mereka tidak
dapat lagi menghargai perjuangan para pahlawan dalam mewujudkan kemerdekaan
Indonesia. Ada beberapa nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia yang wajib kita
teladani dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
1)
Nilai
Persatuan dan Kesatuan
Nilai persatuan dan
kesatuan bangsa ini sangat penting untu mempertahankan keutuhan bangsa agar
tidak tercerai berai. Apabila Negara kita tidak utuh, maka dapat dipecah-belah
sehingga mudah dihancurkan dabn dikuasai bangsa lain. Nilai persatuan dan
kesatuan berguna untuk memperkuat pertahanan bangsa dalam menghadapi ancaman
dari dalam negeri maupun luar negeri. Di samping itu, juga dalam berjuang untuk
mencapai kemajuan dan cita-ciya yang ingin dicapai. Apabila kita lihat dari
latar belakan g masyrakat Indonesia bersifat majemuk dilihat dari budaya, suku,
dan ras, sehingga membutuhkan adanya persatuan dan kesatuan bangsa dengan nilai
persatuan dan kesatuan dapat digunakan sebagai jalan untuk membina hubungan
yang baik, antara sesama manusia, maka dalam era refomormasi ini, nilai
perstuan dan kesatuan dibutuhkan untuk mengisi dan memperthankan kemerdekaan
Indonesia.
2)
Nilai
Rela Berkorban
Nilai rela berkorban
atau jiwa patriotism dapat digunakan sebagi cara berkorban untuk kepentingan
bangsa dan Negara, yaoitu mencapai cita-cita bangsa maupun membela bangsa
Indonesia apabila ada serangan dari dalam maupun luar negeri. Cita-cita bangsa
Indonesia adalah ingin mewujudkan kemajuan bangsa dan penigkatan kesejahteraan
bangsa Indonesia, seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 alinea keempat.
3)
Nilai
Kemanusiaan
Nilai
kemanusiaan sangat penting dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Niali kemanusiaan
digunakan untuk memperkuat kepribadian bangs Indonesia dalam menghadapi
berbagai tantangan hidupdalam berbagai bidang kehidupan.nilai kemanusiaan
merupakan pengamalan sila kedua dalam pancasila, sehingga jika kita
menggunakannilai kemanusiaan dalam mempertahankan dan megisi kemerdekaan
berarti secara langsung telah mengamalkan pancasila.
4)
Nilai
Musyawarah Mufakat
Nilai
musyawrah mufakat snagat dibutuhkan dalam mengambil suatu keputusan, agar dapat
saling menghormati pendapat masing-masing orang sehingga perselisihan dan
pertiakian karena perbedaan pendapat dapat dihindari. Nilai musyawarah mufakat
dalam perkembangannya masih tetap digunakan. Hal tersebut dapat dilihat dalam
pengambilan keputusan yang dilakukan wail-wakil rakyat dalam sidang MPR maupun
DPR.
5)
Nilai
Kerja Sama
Nilai kerja sama sangat
dibutuhkan dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan yang digunakan ubtuk
menjalin kerja sama antar sesame golongan atau kelompok di masyarakat.
Terjalinnya kerja sama yang baik dalam segala bidang kehidupan dapat
mencerminkan eratnya hubungan masyarakat dalam mencapai cita-cita bangsa.
Hubungan kerja sama yang baik antara
pemerintah dan rakyat dapat diwujudkan dalam pembangunan nasional yang berjalan
di Indonesia.
6)
Nilai
Saling Menghargai
Untuk
mengisi dan mempertahankan kemerdekaan, juga dibutuhkan adanya nilai slaing
menghargai antarsesama dalam mencapai cita-cita bangsa. Selain itu, kita juga
harus menghargai peninggalan-peninggalan nenek moyang untuk mengingat kerja
sama masa lampau serta menghargai jasa-jasa dan pengorbanannya dalam mencapai
kmerdekaan Indonesia. Nilai mengahargai dapat diggunakan dalam kehidupan sehari-hari
dengan saling menghargai perbedaan yang dimiliki masing-masing warga Negara
Indonesia.
7)
Nilai
Cinta Tanah Air dan Bangsa
Bila perasaan cinta tanah air dan
bangsa dibutuhkan dalam upaya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia
yang digunakan sebagai pendorong dalam membangun Negara dan Bangsa Indonesia.
Dengan adanya perasaan memiliki setiap warga Negara terhadap Negara Indonesia,
maka setiap warga Negara wajib membangun negaranya mencapai tingkat kemajuan
dan penigkatan kesejahteraan kehidupan masyarakat Indonesia.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam
pelaksanaanya, politik luar negeri Indonesia dipengaruhi oleh factor eksternal
dan factor internalyang berkembang sesuai dengan dinamika yang terjadi.
Dinamika kondisi internal di Indonesiayang berpengaruh besar terhadap arah
pelaksanaan politik luar negeri Indonesia antara lain ditandai dengan krisis
ekonomiyang parah, dimana krisis ini dengan segera memacuberbagai aksi unjuk
rasa masyarakat, kerusuhan social, krisis kepercayaan, serta maraknya gerkan-gerakan separatis di
Indonesia yang berujung pada proses disintegrasi seperti yang terjadi pada
kasus timor Timur. Adanya perubahan dinamika kondisi internal tersebut telah
memaksa pemerintah untuk menyesuaikan politik luar negeri sesuai dengan
tuntunan zaman bagi kepentingan nasional. Situasi social politik dan keamanan
serta masalh ekonomi di tanah air juga menjadi pertimbangan utama dalam
pelaksanaan politik luar negeri. Gerakan separatis yang mengarah pada pemisahan
diri atau disintegrasi dari Indonesia harus mencermati agar pintu masunya
penjajah dalam rangka mengendalakan Indonesia dapat ditutup rapat-rapat, dan
jika dilihat pada kasus Timor Timur terdapat upaya internasionalisasi komplik
domestic yang pada akhirnya mengokohkan intervensi negara-negara asing untuk
memisahkan wilayah komplik tersebut dari, induknya Indonesia. Sehingga, disini
politik luar negeri Indonesia ditujukan untuk menjaga kekuatan Indonesia,
persatuan bangsa serta stabilitas nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Tim edukatif
HTS, 2014.Modul Sejarah IPA. HTS.
http://www.yanthie.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar